Beranda Pendidikan Tingkatkan Keterampilan Problem Solving Anak Usia Dini melalui Kegiatan Pembelajaran Coding

Tingkatkan Keterampilan Problem Solving Anak Usia Dini melalui Kegiatan Pembelajaran Coding

21
Pembelajaran Coding pada Anak Usia Dini (Foto: Istimewa)

Beritapasundan.com- Pendidikan anak usia dini merupakan pondasi untuk mewujudkan generasi berkarakter dan berkualitas. Pendidikan anak usia dini harus disiapkan secara terencana dan bersifat holistic agar dimasa emas perkembangan anak mendapatkan stimulasi yang utuh, sehingga mengembangkan berbagai potensi dan keterampilan yang dimiliki oleh anak. Salah satu keterampilan penting yang harus di miliki anak adalah keterampilan memecahkan masalah (problem solving skills).

Keterampilan pemecahan masalah atau problem-solving skills diakui sebagai komponen penting untuk setiap anak usia dini dalam menentukan nasibnya di masa depan. Hal tersebut selaras dengan apa yang dijelaskan oleh pakar peneliti (Joseph & Strain, 2010) yang menyatakan bahwa keterampilan pemecahan masalah atau problem-solving skills pada anak usia dini merupakan kunci keutamaan dalam pengembangan kompetensi sosial.

Pemecahan masalah (problem-solving) pada anak usia dini melibatkan proses berpikir mengenai suatu pemecahan masalah yang efektif serta efisien sehingga anak harus melaksanakan evaluasi terhadap perbedaan informasi untuk menentukan bukti dari informasi yang telah dimiliki (Busch & Legare, 2019).

Pengembangan keterampilan problem-solving ini harus dipupuk serta ditanamkan pada tahun-tahun awal melalui penggunaan aktivitas atau kegiatan langsung dan tertanam sesuai dengan usia serta tahap perkembangan anak usia dini.

Baca juga: Begini Hukum Shalat dengan Pakaian Basah

Menurut Center on the Developing Child Havard University, kemampuan fungsi eksekutif adalah sekumpulan keterampilan kognitif yang memungkinkan anak untuk berpikir kritis, membuat rencana, fokus, mengingat perintah, serta mengerjakan beberapa hal dalam satu waktu sekaligus. Oleh karena itu, keterampilan problem-solving anak merupakan hal yang penting karena sebagai dasar dari keterampilan kognitif.

Salah satu upaya meningkatkan kemampuan memecahkan masalah (problem solveing skills) pada anak usia dini dapat dilakukan melalui kegiatan pembelajaran coding. Pada pembelajaran di Taman Kanak-kanak khususnya usia 5-6 tahun, anak seharusnya sudah mulai diajarkan literasi coding sesuai dengan peraturan pemerintah yang mulai mengarahkan pengenalan pembelajaran coding yang merupakan bagian dari STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts and Mathematics).

Pembelajaran coding merupakan proses menetapkan perintah atau aturan yang dirancang dalam kehidupan sehari-hari anak dengan bentuk kegiatan melalui plugged (berbasis teknologi) dengan aktivitas coding dan unplugged (rancangan kegiatan pembelajaran manual) agar membantu anak-anak mengenali dan memahami berbagai istilah-istilah kegiatan pemecahan masalah untuk mengembangkan kemampuan computational thinking. Computational Thinking merupakan kemampuan berpikir yang terstruktur dan logis, anak dapat belajar memahami konsep logaritma sederhana dan memecahkan masalah sehingga kemampuannya akan berkembang.

Kegiatan pembelajaran coding di bagi menjadi 2 yaitu melalui plugged dan unplugged. Media dan sumber belajar coding plugged berbasis elektronik seperti beberapa komputer (personal computer atau laptop), gawai (handphone, tablet) dan robot yang dapat dilakukan secara daring (online) dengan menggunakan alamat situs seperti www.code.org atau www.scrathjr.org.

Baca juga: Minum Kopi Setiap Hari Buat Hidup Lebih Lama, Cek Faktanya!

Kedua situs ini menyediakan permainan coding bagi anak usia dini mulai dari usia 4 tahun sampai usia 7 tahun. Selain dapat dilakukan secara online, kegiatan pembelajaran coding juga dapat di lakukan secara luring (offline) dengan menggunakan Codenesia dan Coco yang dapat di unduh melalui tautan bit/ly/codenesia dan by.ly/cocogames yang dapat digunakan pada anak usia 4 tahun sampai 7 tahun yang dilengkapi dengan panduan penggunaan dan panduan penilaiannya.

Permainan coding juga bisa dimainkan pada gawai, caranya dengan mengunduh permainan pada play store seperti coding ScratchJr. Belajar coding juga dapat memanfaatkan teknologi robotik. Contoh coding robotik adalah Robonesia, yaitu robot yang dapat dirakit oleh anak yang kemudian dapat dijalankan dengan cara membuat coding jalannya robot. Perangkat Robonesia terdiri atas perangkat robot, kode blok, kode keping, serta aksesoris berbentuk wajah harimau Sumatra, komodo, dan burung cendrawasih beserta makanannya. Robonesia merupakan media pembelajaran coding yang mengangkat tema hewan khas Indonesia.

Dalam kegiatan pembelajaran coding unplugged media dan sumber belajar coding tidak melibatkan alat-alat elektronik melainkan dapat menggunakan bahan-bahan yang ada di sekitar kita, baik ATK (kertas kartos, spidol, kertas lipat, dan lain-lain), balok, maupun bahan alam dan bahan lepasan (loose parts) yang ada di sekitar kita. Bahan lepasan adalah benda-benda yang dapat dipindahkan dan dimanipulasi. Penggunaan bahan lepas tersebut dapat dipadukan dengan ATK, APE dan Boardgame.

Selain menggunakan Boardgame sederhana, sumber belajar juga dapat menggunakan anggota tubuh. Dalam hal ini guru berperan sebagai programmer dan anak-anak menjadi robot, sehingga guru membuat rangkaian kode dan anak-anak menterjemahkan rangkaian kode tersebut dalam gerakan maju, mundur, kanan dan kiri.

Dengan menerapkan kegiatan pembelajaran coding melalui kegiatan plugged dan unplugged coding baik secara mandiri maupun dengan bimbingan guru dapat memfasilitasi pemecahan masalah yang kreatif, penalaran logis dan mendukung kolaborasi. Anak usia dini dengan cepat dapat mengakses serta memahami kemampuan pemrograman komputer dengan menggunakan pemikiran matematis dalam pendekatan untuk pemecahan masalah atau problem-solving.

Proses yang dilakukan anak usia dini memfasilitasi pemikiran matematis dengan membangkitkan proses pemecahan masalah atau problem-solving yang kreatif serta pengembangan logika dan penalaran saat mereka menanggapi berbagai permasalahan waktu membuat pemrograman dan melakukan permainan secara unplugged coding.

Penulis: Ai Halimatus Sadiyah, S.Pd
Kepala Taman Kanak-kanak Al-Qur’an Al juwanah

Artikulli paraprakBikers! Neduh Saat Hujan di Bawah Flyover Kena Denda 250 Ribu atau Penjara 1 Bulan
Artikulli tjetërDPRD Karawang Segera Paripurnakan Raperda Penanganan TBC