KARAWANG, BEPAS- Rajinnya Celica Nurachdiana dan Kepala Kemenag Karawang meresmikan Kampung Santri menuai kritikan dari Gerakan Pemuda Ansor Karawang.
Ketua GP Ansor Karawang, Ade Permana mengungkapkan bahwa dirinya mengapresasi program kampung santri yang di galakan oleh Pemerintah Daerah namun juga mempertanyakan output dari pembuatan kampung santri.
“Saya sangat mengapresiasi program pemerintah daerah ini (kampung santri), saya harap program ini bukan hanya program ceremonial belaka agar terserapnya anggaran. Karena ekspektasi saya soal kampung santri ini, dimana di kampung tersebut kegiatan-kegiatan keagamaan tumbuh subur, budaya gotong royong, kesederhanaan, adab baik juga terpelihara dan menjadi budaya kehidupan dalam bermasyarakat”, kata Ade Permana.
Ade Permana juga menambahkan bahwa selain melatih masyarakat dikampung santri agar berakhlakul karimah, Pemerintah juga perlu mengembangkan santripreneur yang bergerak di bidang ekonomi kreatif.
“Basis ekonomi atau keuangan masyarakat di kampung tersebut juga perlu dikembangkan, dan tentu harus ada yang mendampinginya dalam melakukan empowerment atau pemberdayaan masyarakat, misal lulusan-lusuan pesantren disuruh mendampingi Kampung Santri tersebut, dan di gaji misalkan sama Kemenag dari APBD, kan bisa aja seperti itu, kita ciptakan santri-santri pelopor atau penggerak”, ujarnya.
Lebih lanjut Ade Permana juga mempertanyakan parameter dari keberhasilan kampung santri tersebut.
“Harus ada parameternya, berhasil atau tidaknya program kampung santri ini. Jangan sampai setelah dibangun kampung santri aktivatas masyarakat di kampung tersebut biasa saja, tidak ada perubahan, kan sayang cuma menghabiskan APBD saja. Terus misal kampung santri Cikande kegiatan-kegiatan keagamaannya makin ramai, dan berhasil mencetak 100 santripreneur, itu kan jelas parameternya. Nah ini saya belum tahu parameter nya apa.
Pada prinsipnya GP Ansor akan mendukung penuh pembuatan kampung santri ini jika parameter keberhasilannya jelas”, tutupnya.(ddi/dhi)














