
KARAWANG – Universitas Singaperbangsa Karawang (UNSIKA) resmi menyelenggarakan wisuda periode Mei 2026 pada Selasa (12/5/2026) di Aula Syekh Quro. Prosesi yang berlangsung khidmat tersebut diikuti lulusan jenjang Sarjana dan Magister, dengan total 173 wisudawan.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 168 lulusan Sarjana dan 5 lulusan Magister resmi dikukuhkan. Adapun rincian wisudawan berdasarkan fakultas meliputi Fakultas Agama Islam sebanyak 30 orang, Fakultas Ekonomi dan Bisnis 30 orang, Fakultas Ilmu Komputer 28 orang, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik 21 orang, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan 20 orang, Fakultas Pertanian 18 orang, Fakultas Teknik 16 orang, Fakultas Hukum 6 orang, serta Fakultas Ilmu Kesehatan 4 orang.
Rektor UNSIKA, Prof. Dr. H. Ade Maman Suherman, S.H., M.Sc., menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh lulusan dan berharap ilmu yang diperoleh dapat memberi manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara.
Dalam sambutannya, ia membagikan tujuh kunci kehidupan sebagai bekal para wisudawan setelah meninggalkan dunia kampus.
Baca juga: Berbekal KIP, Rayfal Fahmi Lulus dari Unsika dan Siapkan Langkah ke Jenjang Magister
“Tujuh kunci itu adalah bertakwa, birrul walidain atau berbakti kepada orang tua, banyak berdoa, gemar bersedekah, terus memperluas ilmu, disiplin, dan menikmati setiap proses kehidupan,” ujarnya.
Universitas juga memperluas jaringan kerja sama internasional dengan berbagai institusi di Malaysia, Jepang, Tiongkok, Belanda, hingga Brazil, termasuk kerja sama strategis dengan Daito Construction Jepang yang membuka peluang pelatihan dan penyaluran kerja bagi alumni.
Namun, di tengah suasana bahagia wisuda UNSIKA, terselip kisah haru yang menyentuh hati. Salah satu lulusan Magister Pendidikan Agama Islam, almarhum Emay Ahmad Maehi, S.Ag., S.H., M.Pd., berhasil mewujudkan cita-citanya meraih gelar magister meski telah berpulang terlebih dahulu.
Semangat Emay Ahmad Maehi dalam menuntut ilmu dikenang mendalam oleh keluarga. Sang istri, Reni, mengungkapkan bahwa almarhum memiliki tekad kuat untuk terus belajar.
“Bapak kuliah Strata 1 di Yogyakarta, kemudian melanjutkan Magister Hukum di UBP. Mengingat beliau merupakan putra kiai, akhirnya melanjutkan Magister Pendidikan Agama Islam di UNSIKA,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.
Menurut Reni, Emay Ahmad Maehi tidak memiliki riwayat sakit sebelumnya. Setelah Lebaran, ia masih sempat berolahraga seperti biasa sebelum akhirnya mengalami sesak napas dan dilarikan ke rumah sakit. Berdasarkan hasil diagnosis, almarhum dinyatakan mengalami serangan jantung.
Ia juga mengenang pesan suaminya tentang pentingnya pendidikan.
“Beliau berpesan bahwa menuntut ilmu tidak memandang umur, karena mencari ilmu adalah kewajiban dari buaian sampai liang lahat,” ujarnya.
Selain meninggalkan pesan kepada keluarga agar anak-anaknya terus menempuh pendidikan hingga jenjang tertinggi, Emay Ahmad Maehi juga dikenal luas sebagai sosok yang aktif dalam berbagai organisasi dan pengabdian masyarakat.
Baca juga: Wisuda Mei 2026, UNSIKA Luluskan 173 Mahasiswa dan Perkuat Langkah Menuju Kampus Global
Adik almarhum, Siti Hamimah, S.H., M.H., menyebut Emay Ahmad Maehi pernah menjabat sebagai Ketua KPU Kabupaten Karawang, Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia, Ketua Nahdlatul Ulama, serta aktif dalam Forum Kerukunan Umat Beragama.
Dalam dunia akademik di UNSIKA, almarhum menyusun tesis berjudul Analisis Strategi Pengembangan Pendidikan Islam dalam Membina Pemahaman Moderasi Beragama: Studi Kasus di Kementerian Agama Kabupaten Karawang dan berhasil meraih IPK 3,65.
Kisah hidup Emay Ahmad Maehi menjadi simbol nyata bahwa semangat belajar, dedikasi, dan pengabdian kepada masyarakat dapat menjadi warisan berharga yang terus menginspirasi, bahkan setelah seseorang tiada.
Melalui wisuda UNSIKA periode Mei 2026 ini, UNSIKA berharap seluruh lulusan mampu menjadi generasi unggul yang siap menghadapi tantangan global, membawa nama baik almamater, serta memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa. (*)













