Beranda Headline Pasanggiri Jaipong Tingkat Jawa Barat di Karawang Jadi Momentum Pelestarian Budaya Sunda

Pasanggiri Jaipong Tingkat Jawa Barat di Karawang Jadi Momentum Pelestarian Budaya Sunda

6
Pasanggiri Jaipong
Dewan juri Pasanggiri Jaipong, Ujang Maulana Yusup, M.Pd: Pasanggiri Jaipong menjadi ruang regenerasi budaya. (Foto: Istimewa)

KARAWANG – Pasanggiri Jaipong tingkat Jawa Barat yang digelar di Brits Hotel Karawang pada Minggu (17/5/2026) menjadi momentum penting dalam upaya pelestarian Budaya Sunda, khususnya melalui penguatan eksistensi Tari Jaipong di kalangan generasi muda.

Sebagai tuan rumah Pasanggiri Jaipong, Kabupaten Karawang menghadirkan ratusan peserta dari berbagai daerah di Jawa Barat yang berkompetisi menampilkan kemampuan terbaik mereka dalam seni Tari Jaipong.

Dewan juri Pasanggiri Jaipong, Ujang Maulana Yusup, M.Pd, menjelaskan bahwa dalam penilaian Tari Jaipong terdapat empat aspek utama yang menjadi dasar evaluasi, yakni wiraga, wirama, wirasa, dan payus.

Baca juga: Balandongan Raja Kami Jadi Ikon Baru Tempat Nongkrong Tradisional Modern di Karawang

“Dalam penilaian Pasanggiri Jaipong, ada beberapa aspek utama yang sangat penting, yaitu wiraga, wirama, wirasa, dan payus,” ujarnya.

Menurut Ujang, wiraga berkaitan dengan kemampuan teknis penari dalam menampilkan gerak tubuh secara tepat, terukur, dan estetis. Aspek ini meliputi ketepatan posisi tubuh, kekuatan tenaga, keluwesan anggota tubuh, keseimbangan, hingga karakter gerak khas Tari Jaipong.

Sementara itu, wirama menilai kemampuan penari dalam menyelaraskan gerakan dengan musik pengiring, terutama dalam mengikuti tempo, aksen kendang, serta perubahan ritme.

“Gerak penari harus memiliki ketepatan ritmis dengan musik pengiring, terutama dalam mengikuti aksen kendang, perubahan tempo, serta dinamika irama sehingga tercipta kesatuan estetis antara tubuh dan musik,” katanya.

Aspek berikutnya adalah wirasa, yaitu kedalaman penghayatan emosional dan kemampuan penari dalam menyampaikan makna gerakan melalui ekspresi wajah maupun bahasa tubuh.

Menurutnya, aspek wirasa masih menjadi tantangan bagi sebagian peserta Pasanggiri Jaipong, meskipun secara teknis mereka sudah cukup baik.

“Secara teknis mereka sudah bagus, tetapi kedalaman interpretasi geraknya masih perlu diperkuat,” tuturnya.

Ia mencontohkan, dalam beberapa penampilan masih ditemukan ketidaksesuaian antara karakter gerak dengan ekspresi wajah penari.

“Kami kadang menemukan karakter gerak yang menunjukkan kemarahan, tetapi ekspresi wajah penari justru tersenyum. Ini membuat pesan artistik Tari Jaipong tidak tersampaikan secara maksimal,” jelasnya.

Selain itu, aspek payus juga menjadi penentu, yaitu kemampuan penari menyempurnakan keseluruhan pertunjukan agar tampak harmonis melalui perpaduan antara gerak, musik, tata rias, dan kostum.

Dalam Pasanggiri Jaipong ini, Ujang menilai antusiasme generasi muda terhadap Budaya Sunda masih sangat tinggi. Hal itu terlihat dari banyaknya peserta yang ikut serta serta aktifnya sanggar-sanggar tari di berbagai daerah.

Baca juga: Ubhara Jaya Wisuda 464 Lulusan, Cetak Alumni Berkarakter dan Berwawasan Kebangsaan

“Saya melihat hampir setiap daerah di Jawa Barat memiliki sanggar tari yang aktif membina anak-anak. Ini menunjukkan Budaya Sunda, khususnya Tari Jaipong, masih sangat diminati,” ujarnya.

Ia berharap Pasanggiri Jaipong tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga menjadi sarana edukasi dan regenerasi dalam menjaga Budaya Sunda agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

“Generasi muda harus memahami bahwa Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Tari Jaipong bukan hanya hiburan, tetapi juga identitas budaya yang harus terus dijaga,” pungkasnya. (*)