KARAWANG – Penerapan teknologi kecerdasan buatan mulai merambah dunia sumber daya manusia. Sistem rekrutmen AI KIIC diproyeksikan segera diterapkan di kawasan industri Karawang guna meningkatkan efisiensi dan objektivitas dalam proses seleksi tenaga kerja.
Hal ini mengemuka dalam kegiatan Halalbihalal dan Bimbingan Teknis Sistem OSS yang digelar di Swiss-Belhotel Karawang, Kamis (2/4/2026), dengan diikuti lebih dari 200 praktisi Human Resources (HR) dari Karawang, Bekasi, hingga Jakarta.
Ketua Umum Forum HRGA KIIC, Zainul Akhwil, menyampaikan bahwa perkembangan teknologi menuntut kesiapan SDM untuk beradaptasi, terutama dalam menghadapi sistem rekrutmen AI KIIC.
Baca juga: Forum HRGA KIIC Gelar Bimtek OSS, 208 Perusahaan Ambil Bagian
“Ke depan kita harus mencetak SDM unggul yang paham teknologi,” ujarnya.
Menurutnya, perubahan di dunia kerja berlangsung sangat cepat, sehingga penguasaan teknologi menjadi kunci utama dalam menghadapi rekrutmen AI KIIC.
“Siapa yang menguasai teknologi, dia yang akan unggul,” tambahnya.
Ia menjelaskan, penerapan rekrutmen AI KIIC akan menciptakan proses seleksi yang lebih objektif dan meminimalkan faktor subjektivitas seperti kedekatan personal.
“Tidak ada lagi faktor kedekatan dalam rekrutmen AI KIIC,” katanya.
Ke depan, sistem rekrutmen AI KIIC akan mencakup seluruh tahapan seleksi, mulai dari penyaringan CV, penjadwalan wawancara, hingga proses interview.
“AI akan menyeleksi kandidat dan mengatur proses wawancara, sehingga lebih rapi dan terstruktur,” jelasnya.
Zainul menyebutkan, sistem ini telah dipersiapkan selama satu tahun terakhir dan akan mulai diterapkan secara bertahap.
“Dalam satu tahun ini sudah kami siapkan. Ke depan akan mulai dijalankan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan para pencari kerja untuk beradaptasi dengan rekrutmen AI KIIC, termasuk dalam menyusun CV yang sesuai dengan standar sistem digital.
“Pencari kerja harus mulai belajar membuat CV yang ramah sistem AI,” tuturnya.
Dengan penerapan rekrutmen AI KIIC, beban kerja HR diharapkan berkurang karena proses administratif dapat ditangani oleh sistem.
“Dari ribuan CV, AI bisa menyeleksi, menjadwalkan, hingga memberi respons,” katanya.
Selain itu, sistem ini juga memungkinkan pemantauan kinerja karyawan secara digital, termasuk pengukuran KPI dan absensi.
“Semua bisa terbaca oleh AI,” tambahnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Forum HR-GA KIIC, Irfan Wijoseno, menilai peran HR ke depan akan lebih strategis dan tidak hanya bersifat administratif.
“HR harus memiliki kemampuan strategis,” ujarnya.
Ia menambahkan, aspek regulasi ketenagakerjaan tetap membutuhkan peran manusia dan tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh teknologi.
Baca juga: IPPAT Karawang Gelar Halalbihalal, Perkuat Sinergi dengan Kantor Pertanahan
Implementasi awal rekrutmen AI KIIC direncanakan dimulai pada Mei mendatang di dua perusahaan, yakni PT Hirota Kogyo dan PT Asian Isuzu Casting Center.
Program ini dikembangkan dengan dukungan hibah pemerintah dan melibatkan akademisi, termasuk dari Universitas Kristen Petra.
Irfan menegaskan, kehadiran AI bukanlah ancaman, melainkan alat pendukung bagi HR dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
“HR akan menjadi mitra strategis perusahaan. Perusahaan maju karena manusianya berkembang,” pungkasnya. (*)















