Beranda Headline Tak Mudik Demi Nafkah, Rudi Hartono Jualan Minuman di Pinggir Jalan Karawang

Tak Mudik Demi Nafkah, Rudi Hartono Jualan Minuman di Pinggir Jalan Karawang

26
Jalan baru karawang
Rudi Hartono, pedagang minuman di Karawang, tetap berjualan di tengah arus mudik demi keluarga. (Foto: Istimewa)

KARAWANG – Di tengah padatnya arus mudik dan balik Lebaran, seorang pedagang minuman di Karawang, Rudi Hartono (50), tampak setia melayani para pengendara di Jalan Baru Karawang. Dengan sepeda motor yang dimodifikasi sederhana, pedagang minuman di Karawang ini menjajakan es, air mineral, hingga kopi hangat menggunakan kompor portabel dan termos.

Pedagang minuman di Karawang tersebut mengaku baru pertama kali mencoba berjualan di jalur arus mudik. Sebelumnya, ia biasa mangkal di Karangpawitan, tepatnya di depan SMA 4 Karawang. Namun, saran dari rekannya membuat pedagang minuman di Karawang ini mencoba peruntungan di lokasi yang lebih ramai.

“Teman saya bilang di Jalan Baru ramai saat mudik. Saya coba ke sini, Alhamdulillah hasilnya lebih bagus. Sehari bisa sampai 50 gelas, kalau di kampung paling 15 gelas,” ujar Rudi, Minggu (29/3/2026).

Setiap hari, pedagang minuman di Karawang ini mulai berjualan pukul 09.00 WIB hingga pukul 02.00 dini hari. Sebelum berjualan, ia juga bekerja sebagai buruh tani di wilayah Rawamerta.

Dari hasil berjualan sebagai pedagang minuman di Karawang saat musim mudik, Rudi mampu meraup penghasilan sekitar Rp300 ribu hingga Rp400 ribu per hari. Sementara saat arus balik, pendapatannya berkisar Rp100 ribu hingga Rp150 ribu. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan saat ia berjualan di Karangpawitan yang hanya menghasilkan Rp60 ribu hingga Rp80 ribu per hari.

Meski demikian, menjadi pedagang minuman di Karawang bukan tanpa tantangan. Rudi mengaku pernah mencoba menambah jumlah termos untuk meningkatkan penjualan, namun banyak yang pecah dan rusak.

“Sebenarnya nggak mau jualan begini, tapi mau gimana lagi. Nyari uang sekarang susah,” katanya.

Rudi merupakan perantau asal Sumedang yang telah 16 tahun menetap di Karawang. Ia tinggal di Desa Sukamerta, Kecamatan Rawamerta, bersama istri dan tiga anaknya yang masih bersekolah.

Sebagai pedagang minuman di Karawang, Rudi menjadi tulang punggung keluarga. Sang istri juga membantu dengan bekerja sebagai juru masak di sebuah SPPG sejak enam bulan terakhir.

Lebaran tahun ini, pedagang minuman di Karawang tersebut memutuskan tidak mudik ke kampung halaman karena keterbatasan biaya.

“Sekali mudik bisa sampai Rp10 juta, karena banyak saudara. Orang tua juga masih ada, nggak mungkin nggak dikasih,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

Tahun sebelumnya, ia masih sempat pulang kampung. Namun kini, pedagang minuman di Karawang itu hanya bisa melepas rindu melalui panggilan video, bahkan sambil tetap berjualan di pinggir jalan.

Perjalanan hidup Rudi tidaklah mudah. Ia pernah mengelola lahan hingga 20 hektare milik orang lain, namun mengalami gagal panen dua kali, terutama saat pandemi Covid-19. Kini, lahan yang tersisa hanya setengah hektare.

Di usianya yang tak lagi muda, pedagang minuman di Karawang ini berharap dapat menjalani pekerjaan yang lebih ringan. Ia bahkan ingin kembali bekerja sebagai satpam, profesi yang pernah dijalaninya saat merantau di Bandung.

“Usia segini pengennya istirahat, kerja yang lebih ringan,” ucapnya.

Meski harus berjualan hingga larut malam di pinggir jalan yang sepi, pedagang minuman di Karawang tersebut tetap bertahan meski dihantui rasa khawatir akan tindak kejahatan.

“Takut begal pasti ada, tapi ya pasrah saja. Pernah juga ngalamin kejadian mistis, ada yang lempar-lempar jam satu malam,” katanya.

Di balik keterbatasan, pedagang minuman di Karawang ini terus berjuang demi keluarganya, menggantungkan harapan dari setiap gelas minuman yang terjual di tengah derasnya arus kendaraan pemudik. (*)

 

Pedagang minuman, Karawang, Arus mudik, Lebaran 2026

 

Rudi Hartono, pedagang minuman di Karawang, tetap berjualan di tengah arus mudik demi keluarga. (Foto: Istimewa)