KARAWANG – SDN Adiarsa Timur 1 masih menghadapi persoalan klasik terkait status lahan SDN Adiarsa Timur 1 yang hingga kini belum memiliki kepemilikan resmi oleh pemerintah daerah.
Sekolah yang berdiri sejak sekitar 1984 ini menempati lahan wakaf, sehingga berdampak pada keterbatasan pembangunan serta minimnya bantuan untuk perbaikan fasilitas. Kondisi tersebut membuat status lahan SDN Adiarsa Timur 1 menjadi hambatan utama dalam pengembangan sekolah.
Kepala sekolah, Aas, mengungkapkan bahwa isu relokasi sebenarnya sudah lama diperjuangkan oleh para kepala sekolah sebelumnya. Namun hingga kini belum ada kepastian dari pemerintah daerah.
Baca juga: Komisi II DPRD Dorong Pasar Johar Jadi Percontohan Pengendalian Inflasi Karawang
“Wacana relokasi sudah lama muncul, bahkan sempat dibahas dalam kegiatan Paten. Tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut yang jelas,” ujarnya, Selasa (5/5).
Hal serupa disampaikan mantan kepala sekolah, Ariefa Nuzliatin. Ia mengaku telah berupaya menyampaikan persoalan tersebut ke berbagai pihak, termasuk dinas terkait, bahkan sempat mendapat respons terkait rencana relokasi.
“Sudah beberapa kali disampaikan, bahkan sempat diarahkan ke lokasi alternatif. Tapi belum ada kejelasan,” katanya.
Dampak dari status lahan SDN Adiarsa Timur 1 terlihat jelas pada kondisi fisik sekolah yang jauh dari ideal. Dengan luas lahan sekitar 845 meter persegi dan jumlah siswa mencapai 391 anak, kapasitas ruang belajar dinilai tidak memadai.
Keterbatasan fasilitas juga terlihat dari tidak adanya lapangan yang layak, sehingga kegiatan olahraga dan upacara harus dilakukan di area terbatas atau menumpang di lokasi lain. Selain itu, sejumlah perabot kelas seperti kursi dalam kondisi rusak.
Masalah lain yang muncul akibat status lahan SDN Adiarsa Timur 1 adalah sulitnya mengakses bantuan pemerintah. Pengajuan proposal perbaikan kerap terkendala administrasi karena tidak adanya sertifikat kepemilikan lahan.
“Untuk rehab saja tidak bisa dilakukan karena izin dari pihak yayasan tidak ada. Jadi memang terbentur administrasi,” jelas Aas.
Ia juga menyoroti keterbatasan fasilitas dasar, seperti ruang guru yang sempit dan hanya tersedia dua kamar mandi yang digunakan bersama oleh guru dan siswa.
Meski berada dalam keterbatasan, semangat belajar siswa tetap tinggi. Berbagai kegiatan sekolah masih berjalan aktif, termasuk Pramuka dan persiapan lomba tingkat kecamatan.
Bahkan, prestasi juga berhasil diraih. Salah satu siswa tercatat meraih juara pertama lomba pencak silat dan akan melaju ke tingkat kabupaten.
“Walaupun fasilitas terbatas, anak-anak tetap semangat. Guru-guru juga berkomitmen memberikan yang terbaik,” ujarnya.
Pihak sekolah berharap pemerintah daerah segera memberikan solusi konkret, khususnya terkait relokasi. Pasalnya, kondisi saat ini dinilai tidak hanya menghambat proses pembelajaran, tetapi juga berpotensi membahayakan keselamatan siswa.
Baca juga: Karawang Half Marathon 2026 Siap Digelar, Dorong Sport Tourism Karawang
“Harapannya ada solusi nyata. Kami ingin relokasi bisa terwujud karena ini menyangkut masa depan anak-anak,” tutupnya.
Selama lebih dari empat dekade, status lahan SDN Adiarsa Timur 1 masih menjadi persoalan yang belum terselesaikan. Sekolah ini pun terus berharap dapat memiliki fasilitas pendidikan yang layak, aman, dan mendukung proses belajar generasi penerus. (*)














