Beranda Khazanah Menilik Sejarah Masjid Agung Karawang, Simbol Syiar Islam Pertama di Bumi Pangkal...

Menilik Sejarah Masjid Agung Karawang, Simbol Syiar Islam Pertama di Bumi Pangkal Perjuangan

320
Mesjid Agung Karawang (Foto: Ist)

KARAWANG – Masjid Agung Karawang atau Masjid Agung Syekh Quro terletak di Kecamatan Karawang Barat, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Konon masjid ini dipercaya sebagai masjid tertua di Jawa Barat.

Masjid Agung Syekh Quro dibangun pada abad ke-14 atau tahun 1418 masehi.

Masjid ini didirikan oleh ulama sohor bernama Syekh Quro, atau yang bernama lengkap Syekh Hasanudin bin Yusuf Sidik. Juga ada dua ulama yang terlibat dalam pendiriannya, yaitu Syekh Abdurrahman dan Syekh Mualana Idhofi.

Syekh Quro diketahui merupakan ulama penyebar agama Islam pertama di Karawang.

Baca juga: Ramadhan Berkah! INI-IPPAT Karawang Salurkan Puluhan Juta untuk Yatim, Dhuafa dan Ponpes

Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Agung Karawang, Acep Jamhuri menuturkan, Masjid Agung dibangun dekat dengan Pelabuhan Sundapura Pajajaran Karawang, persis di antara pertemuan sungai Citarum dan Sungai Cibeet.

Kini lokasi bekas pelabuhan itu dikenal dengan nama Kampung Poponcol, Jebug dan Bunut.

“Kalau dihitung usianya sudah 606 tahun dan menjadikan sebagai masjid tertua di Jawa Barat, bahkan kami yakin sebagai salah satu yang tertua di pulau Jawa,” klaim dia, Jumat (22/3).

“Masjid ini dibangun pada 1418 masehi, sedangkan Masjid Agung Cirebon 1475 masehi dan Masjid Agung Demak 1479,” sebut Acep.

Simbol syiar islam pertama di Karawang

Mulanya, kata dia, Masjid Agung Karawang hanya sebuah pondok pesantren yang dinamai Pesantren Quro. Luasnya kurang lebih sekitar 9 x 9 meter.

Pesantren ini menjadi saksi bagaimana Islam berkembang di tengah masyarakat Karawang. Khususnya bagi mereka para pendatang di pelabuhan Sundapura Pajajaran yang memutuskan mualaf.

Baca juga: 4 Rekomendasi Menu Sehat Untuk Berbuka Puasa, Nutrisi Lengkap Jaga Keseimbangan Tubuh

“Dulu sejarahnya untuk tempat belajar syari’at islam, seperti pondok pesantren, majelis ta’lim, khususnya buat belajar baca tulis Alquran bagi para mualaf,” katanya.

Konon, masjid ini pun menjadi tempat pernikahan antara Prabu Siliwangi (Raja Sunda Pajajaran) dengan Nyai Mas Subanglarang (anak santri Syekh Quro).

Direnovasi dan diperluas

Seiring berjalannya waktu, Masjid Agung Karawang terus dipercantik dan diperluas. Terhitung sudah enam kali masjid ini direnovasi.

Renovasi pertama dilakukan oleh oleh Bupati Karawang pertama, Raden Singa Perbangsa pada tahun 1635 masehi.

Renovasi kedua dilakukan pada tahun 1747 oleh Bupati Karawang keempat, Raden Mochamad Sholeh Singaperbangsa. Bahkan, jasadnya dimakamkan di serambi masjid sebelah selatan atau disebut dengan dalem serambi.

Baca juga: Resep Teh Tarik Malaysia, Mudah dan Cocok Buat Buka Puasa

Kemudian renovasi ketiga dilakukan oleh Bupati Karawang ke-15, Raden Tohir Mangku Dijoyo pada tahun 1957. Bupati yang menjabat dari tahun 1951 sampai 1960 ini juga turut dimakamkan di komplek pemakaman belakang Mesjid Agung Karawang.

Renovasi terus berlanjut di zaman Bupati Karawang ke-16 yaitu Kolonel Husni Hamid pada tahun 1967.

Pada tahun 1989, Bupati Karawang ke-20 Kolonel Czi. Sumarmo Suradi juga merenovasi dan memperluas Masjid Agung Karawang menjadi 2.230 meter per segi pada tahun 1994.

Terakhir, renovasi sekaligus perluasan dilakukan pada tahun 2017 oleh Bupati Karawang Cellica Nurrachadiana.

Acep menjelaskan, setiap bulan suci Ramadan, tak kurang dari 1.000 orang menyambangi Masjid Agung Karawang. Ada yang untuk wisata ziarah, buka puasa bersama dan beribadah.

Apalagi masjid ini memang bersebelahan dengan Alun-alun Karawang, sehingga banyak dimanfaatkan sebagai tempat ngabuburit.

“Kami berupaya agar masyarakat nyaman beribadah di masjid ini. Semisal saat Ramadan, kami rutin mengadakan one day one juz dan juga menyiapkan buka bersama dan sahur,” tutupnya. (*)