Beranda Headline Menemukan Islam di Sel Penjara, Begini kisah Dua Napi yang Jadi Mualaf

Menemukan Islam di Sel Penjara, Begini kisah Dua Napi yang Jadi Mualaf

278

KARAWANG – Kesan gelap nan menyeramkan jeruji besi tahanan terkadang menjadi imej yang melekat di mata masyarakat. Pasalnya, tempat tersebut menjadi rumah narapidana dari berbagai kasus.

Namun di Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Karawang, kesan itu seketika hilang. Sebab di dalamnya terdapat pondok pesantren bagi narapidana untuk menimba ilmu agama islam.

Bahkan kehadiran pesantren ‘Nurul Iman’ ini turut menyentuh nurani 2 warga binaan yang menyatakan diri menjadi mualaf. Mereka adalah Candra dan Yusman.

Candra (40), bercerita awal mula ia memutuskan masuk islam. “Awalnya mimpi didatangi orang berjubah putih,” kata warga binaan yang telah mualaf pada Maret 2022 lalu ini.

Baca Juga: Hore Lebaran Bisa Mudik, Ini Syaratanya

Ia kemudian meminta izin kepada orang tuanya untuk mualaf. Setelah diizinkan, ia pun berbicara dengan petugas lapas dan pengurus pesantren.

“Akhirnya saya mualaf dan kemudian sunat,” kata dia.

Candra kini tengah dalam fase belajar ibadah. Seperti sholat, mengaji, dan puasa. Ia bercerita awal berpuasa terasa berat. Namun setelah beberapa hari menjadi terbiasa.

“Alhamdulillah belum bolong puasa hingga hari ini,” ucap dia.

Selama Ramadan ini, Candra yang dibui karena tersandung kasus narkoba itu aktif mengikuti kegiatan – kegiatan di Pesantren Nurul Iman.

Baca Juga: Polres Karawang Tangkap Komplotan Pencuri Mobil Pikap, Pelaku Ternyata Residivis

Dari pantauan tvberita.co.id, para santri tampak khusyuk mengikuti kegiatan pesantren. Lantunan ayat suci Alquran tak henti saling bersahutan di antara para santri. Mulai dari belajar iqro hingga menghafal Alquran.

Yusman (22) mualaf lainnya menuturkan, niatannya untuk memilih islam sejatinya sudah ada sejak kecil.

“Dari kecil sudah ada niat,” ucapnya.

Bak gayung bersambut, keinginannya menjadi mualaf semakin kuat saat mengetahui bahwa Lapas Karawang mendirikan sebuah pesantren.

Senada dengan Candra, ia tengah belajar beribadah. Seperti sholat, mengaji, dan puasa. “Sekarang belajar iqro,” tuturnya.

Kasi Binadik Lapas Kelas IIA Karawang, Kamesworo membenarkan adanya 2 santri mualaf di Pesantren milik Lapas Karawang.

“Alhamdulillah ada dua santri yg mualaf,” kata dia.

Menurutnya, didirikannya pesantren di dalam lapas agar menggali kembali jiwa spiritual para warga binaan. Sehingga saat mereka bebas, karakternya telah terbentuk.

“Mudah-mudahan santri kami bisa tetap istiqomah. Syukur-syukur ketika bebas, mereka bisa membangun pesantren sendiri di tengah-tengah masyarakat,” tutupnya. (kii/ddi)