KARAWANG – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi musim hujan yang diprediksi akan bersamaan dengan fenomena La Nina berskala lemah. Fenomena ini diperkirakan menambah curah hujan sebesar 20-40 persen dan berlangsung dari November 2024 hingga Maret atau April 2025.
La Nina adalah anomali iklim global akibat mendinginnya suhu permukaan laut di Samudra Pasifik. Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menjelaskan bahwa fenomena ini dapat meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, angin kencang, hingga banjir lahar hujan di sekitar gunung berapi yang aktif atau baru mengalami erupsi.
Baca juga: Bupati Karawang Tinjau Simulasi Makan Siang Gratis di Hari Guru Nasional
“Kami mengimbau masyarakat, terutama yang tinggal di perbukitan, lereng gunung, dataran tinggi, serta bantaran sungai, untuk mempersiapkan diri mengantisipasi potensi bencana,” kata Dwikorita dalam keterangan resmi, Selasa (26/11/2024).
Selain La Nina, fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) turut memengaruhi pola distribusi hujan di Indonesia. BMKG mencatat, 67 persen wilayah Indonesia diprediksi akan menerima curah hujan tinggi (lebih dari 2.500 mm per tahun) pada 2025, terutama di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, sebagian besar Kalimantan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan Papua. Sementara itu, 15 persen wilayah akan mengalami curah hujan di atas normal, dan 1 persen wilayah menghadapi curah hujan di bawah normal.
Baca juga: Diduga Kampanye di Masa Tenang, Aktivis Santri Karawang Laporkan Timses 01 ke Bawaslu
Dwikorita menegaskan pentingnya kesiapsiagaan dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam menghadapi potensi dampak dari fenomena cuaca ini. Langkah-langkah mitigasi dan kesiapan bencana dinilai menjadi kunci untuk meminimalkan risiko kerugian. (*)














