
KARAWANG – Puskesmas Karawang menggelar lokakarya sebagai upaya memperkuat penanganan kasus kusta di Karawang. Kegiatan tersebut berlangsung di Gedung Puskesmas Karawang pada Senin (13/04/2026).
Lokakarya ini menjadi respons atas meningkatnya kasus kusta di Karawang dalam beberapa tahun terakhir. Saat ini, Karawang tercatat sebagai salah satu wilayah dengan angka kusta tertinggi di Jawa Barat. Secara global, Indonesia juga masih berada di peringkat tiga dunia dalam jumlah kasus kusta.
Kepala Puskesmas Karawang, Asep Saeful Bahri, menegaskan bahwa penanganan kasus kusta di Karawang harus dimulai dari penghapusan stigma di masyarakat.
Baca juga: Beat Diabetes 2026 Digelar di 35 Kota, Dorong Remisi Diabetes Lewat Gaya Hidup Sehat
“Langkah pertama adalah mematahkan stigma melalui kerja sama lintas sektor dan dinas. Penanganan kasus kusta di Karawang tidak bisa dilakukan sendiri,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kusta bukan lagi penyakit berbahaya apabila pasien menjalani pengobatan secara rutin, karena risiko penularan dapat ditekan secara signifikan.
Penanganan kasus kusta di Karawang dilakukan melalui kolaborasi lintas layanan kesehatan, mulai dari puskesmas, klinik, praktik dokter mandiri, hingga rumah sakit. Selain itu, koordinasi juga diperkuat melalui forum minggon di tingkat kecamatan.
Salah satu program yang didorong adalah Kota Tanpa Kusta (Kotaku), dengan melibatkan lurah dan perangkat wilayah untuk mempercepat penanganan serta menekan kasus kusta di Karawang.
Dokter Wahyudin menjelaskan, gejala awal kusta di Karawang sering disalahartikan sebagai penyakit kulit biasa, seperti panu.
“Biasanya muncul bercak putih atau merah. Setelah diperiksa, baru diketahui kusta, termasuk adanya penebalan saraf,” katanya.
Ia menyebutkan, banyak pasien datang dalam kondisi sudah parah karena tidak menyadari gejala awal. Oleh karena itu, edukasi menjadi kunci penting dalam menekan kasus kusta di Karawang.
Koordinator Kusta, Kamil, mengungkapkan bahwa kondisi kusta di Karawang Kota relatif terkendali.
“Dari 2025 hingga saat ini terdapat tujuh kasus. Empat sudah sembuh, sementara tiga masih dalam proses pengobatan,” ujarnya.
Menurutnya, pembentukan kader kesehatan di masyarakat terbukti efektif menekan kasus kusta di Karawang, seperti di wilayah Karangpawitan yang berhasil mencapai nol kasus.
Asep menegaskan, target eliminasi kusta pada 2030 salah satunya diukur dari tidak adanya kasus pada anak selama lima tahun berturut-turut.
“Fokus kami adalah penyembuhan tanpa kecacatan agar pasien tetap produktif,” jelasnya.
Durasi pengobatan kusta di Karawang bervariasi antara enam hingga 12 bulan, tergantung tingkat keparahan. Secara medis, kusta terbagi menjadi dua jenis, yakni Pausi Bacillary (kering) dan Multi Bacillary (basah).
Baca juga: UNSIKA Gelar Seleksi S2 Gelombang II, Magister Manajemen Paling Diminati
Pengobatan dilakukan menggunakan terapi Multi-Drug Therapy (MDT) dengan kombinasi antibiotik seperti Rifampisin, Dapson, dan Klofazimin.
“Jika pengobatan dijalani dengan teratur, kusta bisa sembuh,” tegas Wahyudin.
Asep pun mengimbau masyarakat agar tidak takut atau menyembunyikan penyakit.
“Jika ada gejala, segera periksa ke puskesmas. Pengobatan gratis dan kusta bisa disembuhkan,” pungkasnya. (*)













