beritapasundan.com – Bogor adalah surganya destinasi wisata air. Salah satunya adalah Curug Kiara yang lokasinya tersembunyi di kaki Gunung Salak.
Tepatnya di Desa Ciasihan, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Untuk mencapai lokasi air terjun ini, pengunjung perlu melewati perjalanan yang cukup melelahkan.
Baca juga: Candi Gedong Songo: Habiskan Waktu Ngabuburit dengan View Alam Mempesona
Dari tempat parkir, pengunjung harus berjalan kaki melewati jalan setapak yang menanjak.
Jalurnya juga cukup curam sehingga harus berhati-hati saat melewatinya.
Pengunjung juga sangat disarankan untuk menggunakan alas kaki yang nyaman dan aman.
Kendati demikian, lelahnya perjalanan akan terbayar lunas dengan pemandangan yang disajikan Curug Kiara.
Baca juga: Pantai Luwen Gunung Kidul, Ngabuburit Sambil Nikmati Keindahan Ombak
Curug Kiara mengalir di sela-sela tebing bebatuan yang memiliki tinggi sekitar 50 meter.
Aliran airnya mengalir dari sela-sela bebatuan yang cukup tersembunyi.
Di dinding-dinding tebing banyak ditumbuhi tanaman hijau yang membuat suasananya semakin asri.
Pepohonan juga tumbuh subur di sekitar kawasan air terjun yang menciptakan suasana rindang.
Di dekat air terjun terdapat kolam alami yang airnya jernih dan berwarna kebiruan.
Baca juga: Spot Healing Bernuansa Jepang, Taman Sakura Lawu Tawarkan View Memukau
Kolamnya dikelilingi oleh bebatuan yang bisa dinaiki oleh pengunjung.
Bebatuan ini adalah spot favorit pengunjung untuk berfoto.
Untuk wisata ke sini, pengunjung tidak perlu repot membawa perlengkapan apa pun.
Sebab fasilitas yang tersedia sudah cukup lengkap, seperti tempat parkir, toilet, musala, warung, gazebo, hingga area camping.
Baca juga: Puteri River Inn Sumedang: Wisata Gratis dengan Keindahan Alam, Suasana Sejuk Nikmati Sungai Jernih
Untuk wisata ke sini, pengunjung perlu membayar tiket masuk Rp10.000 per orang.
Biaya tersebut belum termasuk parkir Rp5.000 untuk motor dan Rp10.000 untuk mobil.
Sementara untuk camping di sini akan dikenakan biaya Rp20.000.
Curug Kiara buka setiap hari selama 24 jam. Namun, disarankan datang ke sini saat siang hari mengingat medan perjalanannya yang ekstrem. (*)














