
KARAWANG – Kurasi pertunjukan tradisional ketuk tilu di Kabupaten Karawang menghasilkan 7 sanggar terbaik.
Kegiatan kurasi tersebut diinisiasi oleh 2 instansi yakni Disparbud Karawang dan Komite Ekraf Karawang. Diselenggarakan pada 26-29 Mei 2024 lalu, diikuti oleh 18 sanggar dan 85 orang peserta.
Ketua Komite Ekraf Karawang, Rahmat Wiguna menyampaikan, 7 sanggar terbaik hasil kurasi ini antara lain; Mustika Sari, Dewi Asmara, Tresna Munggaran, Pusaka Sunda, Sinar Pusaka Layung, Sinar Pusaka, dan Asih Muda.
Baca juga: Jelang Pilkada 2024, Bawaslu Karawang Ajak Masyarakat Awasi Proses Pemuktahiran Data Pemilih
Pihaknya berkomitmen untuk terus mendorong dan memperhatikan para seniman pertunjukan tradisional di Kabupaten Karawang.
“Saya berharap seni tradisional Karawang ini terus dikenalkan, dikembangkan, terutama ke generasi z, ke kancah internasional. Kemudian bisa dikemas dengan mempunyai nilai jual,” ujarnya saat diwawancarai pada Senin, 10 Juni 2024.
Ia menjelaskan, adanya kurasi ini ditujukan untuk meningkatkan persaingan sportif dikalangan seniman. Sekaligus mendorong mereka untuk terus berinovasi dan mengembangkan diri.
Mereka yang terpilih menjadi peserta terbaik, akan mendapatkan kesempatan untuk memamerkan seni pertunjukan di event-event yang besar.
Para seniman pertunjukan tersebut, nantinya akan direkomendasikan kepada pemerintah untuk turut memamerkan eksistensi sebagai ikon tradisional Kabupaten Karawang.
“Misalkan di Karawang ada kegiatan besar dari Provinsi dan Nasional, kami harap seni pertunjukan bisa ditunjuk untuk tampil. Kedepan kita pengen pertunjukan ini bisa menjadi icon kegiatan yang komersil,” jelasnya.
Di samping itu Wiguna mengaku senang, karena antusiasme masyarakat ternyata masih tinggi terhadap seni pertunjukan tradisional.
Baca juga: Waspada Cuaca Ekstrem, BMKG Imbau Warga yang Tinggal di Daerah Rawan Bencana
Menurutnya, masyarakat Karawang juga rindu, karena seni pertunjukan tradisional kerap tergeser oleh seni pertunjukan modern.
“Antusiasme masyarakat luar biasa, banyak yang menonton saat kurasi. Artinya mereka rindu dengan seni tradisional. Kita merasa senang, bersyukur. Mudah-mudahan kedepan seni budaya khas Karawang bisa selalu muncul di setiap event,” pungkasnya. (*)













