Di sebuah kampung pesisir Laut Selatan, tepatnya di Desa Tirta Jaya, penduduknya hidup damai meski dihantui cerita-cerita mistis yang melegenda. Namun, ketenangan itu terusik beberapa pekan terakhir. Warga sering melihat sosok anak kecil bertubuh basah kuyup berjalan menyusuri jalan-jalan kampung di malam hari. Sosok itu tak pernah berbicara, hanya berjalan dengan pandangan kosong sambil menggendong boneka lusuh yang basah seperti tubuhnya.
Warga mengenali sosok itu sebagai Bayu, anak yang tenggelam di laut beberapa bulan lalu. Bayu, anak tunggal seorang nelayan bernama Pak Surya, hilang dalam badai saat bermain di tepi pantai. Setelah tiga hari pencarian, tubuhnya ditemukan tak bernyawa, dan ia dikebumikan di pemakaman desa. Namun, kini ia muncul kembali, meski bukan sebagai manusia hidup.
Setiap malam, Bayu terlihat berjalan dari pantai menuju kampung, lalu kembali lagi ke laut sebelum fajar menyingsing. Banyak yang bersaksi, namun tak seorang pun berani mendekatinya. Pak Surya sendiri kerap mendengar langkah basah di depan rumahnya, tapi saat pintu dibuka, hanya ada jejak kaki kecil yang mengarah ke pantai.
Pencarian Benda Misterius
Suatu malam, Pak Surya memberanikan diri untuk mengikuti Bayu. Ia yakin anaknya mencari sesuatu yang penting. Dengan membawa lentera dan keberanian yang tersisa, ia berjalan di belakang Bayu, menjaga jarak. Bayu berhenti di sebuah batu besar di tepi pantai, lalu duduk di sana sambil memeluk bonekanya. Ia terlihat menangis pelan.
“Bayu… apa yang kau cari, Nak?” tanya Pak Surya dengan suara gemetar.
Bayu menoleh perlahan, mata kosongnya menatap ayahnya. Suaranya terdengar seperti bisikan angin. “Kalung bunda… jatuh di laut.”
Pak Surya tersentak. Ia teringat, Bayu sangat menyayangi kalung milik mendiang istrinya, yang pernah ia pakai saat bermain di pantai. Namun, kalung itu hilang saat Bayu tenggelam. Pak Surya bertekad menemukan kalung tersebut agar anaknya tenang.
Baca juga:Â Penunggu Gudang Belakang: Teror Asrama Putri
Perburuan di Dasar Laut
Dengan bantuan seorang penyelam lokal, Pak Surya mencari kalung itu di perairan tempat Bayu tenggelam. Pencarian berlangsung selama tiga hari. Di dasar laut yang gelap, sang penyelam akhirnya menemukan sesuatu yang terjebak di antara karang—sebuah kalung perak dengan liontin berbentuk bulan sabit, yang memang milik almarhum istrinya.
Pak Surya membawa kalung itu ke pantai pada malam harinya. Saat bulan purnama memancarkan sinarnya, Bayu muncul lagi di dekat batu besar. Kali ini, Pak Surya mendekat tanpa rasa takut. “Ini kalungnya, Bayu. Ayah sudah menemukannya,” katanya sambil menahan air mata.
Bayu tersenyum untuk pertama kalinya. Tubuhnya perlahan memudar, menjadi kabut yang diterbangkan angin laut. “Terima kasih, Ayah…” suaranya bergema sebelum menghilang sepenuhnya.
Akhir dari Misteri
Sejak malam itu, sosok Bayu tak pernah terlihat lagi. Namun, setiap kali angin malam berhembus dari laut, Pak Surya merasa seperti mendengar suara tawa kecil Bayu, seolah ia kini telah tenang bersama ibunya.
Desa Tirta Jaya kembali damai, dengan satu cerita misteri baru yang akan diceritakan turun-temurun oleh penduduknya. ***














