
Setelah ditemukan, MSG mengalami fase kemashyuran yang sungguh luar biasa.
Dunia pun heboh dan tergila-gila untuk menambahkan bubuk glutamat kemasan ini pada masakan mereka.
Banyak restoran yang mencampurkannya dalam masakan mereka supaya lebih sedap dan gurih.
Sampai akhirnya, 60 tahun kemudian, tepatnya pada 1968, Dr. Robert Ho Man Kwok menulis surat kepada Jurnal Medis New England.
Baca juga:Â Catat Ini 8 Tips Mudah Menciptakan Tidur Berkualitas
Dia mengatakan kalau setiap habis makan di restoran Cina, tubuhnya mengalami semacam sindrom mati rasa di belakang lehernya yang merambat ke tangan dan punggung, lalu jantungnya pun ikut berdebar. Dia menyebut ini sebagai: Sindrom Restoran Cina (Chinese Restaurant Syndrom).
Kwok berspekulasi bahwa sindromnya tersebut dikarenakan oleh penambahan bubuk MSG dalam makanan yang memang saat itu populer dipakai di restoran Asia khususnya Cina.
Kehebohan pun akhirnya kembali muncul dengan banyaknya buku dan artikel yang mendukung pernyataan Dr. Kwok dengan mengeluarkan kampanye anti-MSG.
Para pengusaha restoran Cina yang menjadi sasaran serang dari kampanye ini sampai turut mengiklankan bahwa masakan yang mereka sajikan bebas mecin alias MSG.
Penelitian berikutnya dilakukan di Universitas Washington oleh Dr John W. Olney yang menyuntikkan monosodium glutamat dalam dosis besar kepada tikus yang baru lahir.
Hasilnya menyebabkan perkembangan jaringan mati di otak tikus tersebut.
Meskipun banyak yang mengkritik metode dengan dosis yang berlebihan tersebut, timbulnya jaringan mati di otak spesimen tikus menimbulkan pernyataan bahwa monosodium glutamat adalah penyebab kebodohan.
Itulah awal mula mitos bahwa MSG atau mecin bikin bodoh.













