beritapasundan.com – Fenomena doom spending, atau kebiasaan belanja berlebihan secara impulsif, kerap terjadi tanpa disadari oleh banyak orang. Istilah ini merujuk pada perilaku konsumen yang cenderung melakukan pembelian yang tidak terencana, didorong oleh dorongan emosional atau tekanan sosial, meski mungkin mereka tidak benar-benar membutuhkannya.
Kebiasaan ini sangat mudah terbentuk dan bisa sulit dihentikan, terlebih dengan semakin mudahnya akses belanja daring dan promosi besar-besaran di berbagai platform digital.
Baca juga:Â Era Baru Teknologi: Kacamata Pintar dan Neuralink Siap Gantikan Smartphone
Penyebab utama doom spending sering kali berasal dari stres, tekanan hidup, atau rasa cemas yang akhirnya mendorong seseorang mencari pelarian sementara melalui belanja. Di sisi lain, peningkatan frekuensi belanja daring dan mudahnya akses pembayaran digital ikut memperparah kondisi ini.
Belanja impulsif yang dilakukan terus-menerus dapat menimbulkan masalah finansial yang serius, bahkan berisiko mengganggu kestabilan ekonomi pribadi. Sebagian besar orang yang terjebak dalam fenomena ini biasanya tidak menyadari besarnya pengeluaran yang terjadi sampai akhirnya mencapai titik krisis finansial.
Dampak dari doom spending tidak hanya terbatas pada kondisi ekonomi, tetapi juga berpengaruh pada kesehatan mental. Rasa bersalah dan cemas setelah belanja berlebihan sering kali membuat seseorang merasa semakin tertekan, yang justru dapat memperburuk siklus kebiasaan belanja impulsif. Dalam jangka panjang, hal ini dapat mengakibatkan ketidakstabilan emosional serta utang yang terus menumpuk.
Untuk mengatasi doom spending, langkah utama yang dapat diambil adalah menyusun anggaran pengeluaran yang ketat serta memahami prioritas keuangan. Kesadaran diri saat belanja, seperti bertanya pada diri sendiri apakah barang tersebut benar-benar diperlukan, juga menjadi kunci penting dalam menahan keinginan belanja yang tidak perlu. Membatasi akses terhadap aplikasi belanja atau menonaktifkan notifikasi promosi dapat membantu mengurangi godaan untuk berbelanja impulsif.
Baca juga:Â Siapkah Anda Hadapi Tantangan Penerapan AI dalam Pengadaan Proyek Konstruksi?
Kesadaran mengenai doom spending dan dampaknya sangat penting untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan hidup dan keamanan finansial. Meski sulit diatasi, pengelolaan yang tepat dan kedisiplinan diri akan membantu mencegah seseorang terjebak dalam kebiasaan konsumtif yang merugikan. (*)














