
KARAWANG – Raut semringah terpancar dari seorang pria beruban di pesisir Pantai Utara (Pantura), Jawa Barat. Dengan kaki beralaskan sendal jepit lusuh, pria itu nampak gagah melangkah di bawah terik matahari yang kira-kira suhunya mencapai 39 derajat celcius.
Dengan mengenakan kaus hitam berlengan panjang dan celana olahraga pendek, pria itu memperkenalkan mahakarya yang digelutinya selama bertahun-tahun.
Dari mahakaryanya itu, terhitung satu dusun di wilayah tersebut terselamatkan dari ancaman abrasi dan saat ini menjadi kawasan hutan wisata.
Pria itu adalah Suhaeri (58). Di antara warga sekitar, Suhaeri dikenal sebagai local heroes bencana abrasi di Dusun Pasir Putih, Desa Sukajaya, Kecamatan Cilamaya Kulon, Kabupaten Karawang.
Baca juga: NasDem Karawang Gelar Konsolidasi Dapil untuk Pemenangan Aep – Maslani di Pilkada 2024
Suhaeri berkisah, kira-kira sekitar 8 tahun lalu, ancaman abrasi di Dusun Pasir Putih begitu nyata di depan mata. Ombak laut kala itu tak hanya semakin mengikis bibir pantai, tetapi juga sudah menghantam tembok rumah warga.
Hutan mangrove yang puluhan tahun menjaga dan melindungi tanah di wilayah pesisir tersebut, semakin rusak akibat akuakultur dan eksploitasi berlebihan. Kelalaian manusia pun mulai menuai karmanya.
Di tengah keresahannya itu dia pun mulai mencoba mengumpulkan kembali bibit mangrove liar dan menanamnya seperti semula hampir setiap hari. Pemandangan Suhaeri pulang dengan pakaian penuh lumpur jadi pemandangan baru bagi anak istrinya.
“Istri saya keheranan setiap pulang nelayan selalu mandi lumpur. Kemudian dari situ saya jujur kepada keluarga sedang menanam mangrove,” kenang Suhaeri, Jumat (13/9).
Baca juga: Inovasi Batik Ramah Lingkungan: Komarudin Kudiya Ciptakan Alat Pengolahan Limbah Batik NOMBG
Celakanya, gara-gara kebiasaannya itu, kata dia, Suhaeri ditinggal istrinya pergi ke luar negeri menjadi buruh migran. Alasannya karena penghasilan Suhaeri sebagai nelayan rajungan terganggu akibat kebiasaan barunya itu.
Sampai dua tahun kemudian, usahanya membuahkan hasil, banyak mangrove yang bertahan hidup dan menginspirasi keluarga serta teman-temannya untuk membantu dan mendukung Suhaeri.
Namun saat itu dia mengaku belum puas karena daratan yang tercipta hanya berupa lumpur. Dia ingin akresi ini harus menjadi daerah wisata yang dicatat dalam sejarah
Kolaborasi bareng PHE ONWJ
Tiba di tahun 2019, Suhaeri berkenalan dengan pihak PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ).
Baca juga: Karawang Sasar 13.813 Akseptor KB Gratis Menjelang Hari Kontrasepsi Sedunia 2024
Setali tiga uang, pihak PHE ONWJ pun mengamini mimpi Suhaeri untuk membuat kawasan wisata mangrove.
Berbagai percobaan sempat dilakukan antara warga Pasir Putih dengan PHE ONWJ untuk menumbuhkan akresi. “Awalnya sempat pakai geobak, tapi tidak berhasil karena cenderung merusak lingkungan,” katanya.













