beritapasundan.com – Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan oleh para ahli psikologi dari Universitas Toronto mengungkapkan adanya perbedaan wajah yang signifikan antara orang kaya dan orang miskin.
Studi ini menemukan bahwa status sosial seseorang dapat tercermin dari ekspresi wajah yang mereka tunjukkan, bahkan ketika wajah tersebut tidak sedang menampilkan emosi tertentu.
Baca juga:Â Tanpa Repot Visa, Ini 4 Negara Eropa yang Bisa Dikunjungi Warga Indonesia
Dalam penelitian ini, para peneliti menganalisis foto-foto wajah lebih dari 100 peserta yang dibagi berdasarkan tingkat pendapatan.
Hasilnya, mereka menemukan bahwa orang-orang dengan status ekonomi lebih tinggi cenderung memiliki ekspresi wajah yang secara tidak sadar memperlihatkan rasa puas atau bahagia, sementara mereka yang berasal dari kelompok ekonomi rendah sering menunjukkan ekspresi yang menggambarkan ketegangan atau ketidaknyamanan.
Menariknya, perbedaan ekspresi wajah ini sering kali terlihat dalam kondisi wajah netral, yaitu ketika orang tidak sedang menunjukkan emosi tertentu. Hal ini mengindikasikan bahwa pengalaman hidup sehari-hari, seperti kesulitan finansial atau kesejahteraan, dapat membentuk ekspresi wajah yang bersifat tetap.
Peneliti juga mencatat bahwa perbedaan ini dapat memengaruhi bagaimana orang lain mempersepsikan seseorang dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam hal kesempatan kerja atau interaksi sosial.
Walaupun hasil riset ini membuka wawasan baru tentang hubungan antara status sosial dan penampilan fisik, para ahli menekankan bahwa kesan pertama dari wajah seseorang tidak selalu mencerminkan karakter atau potensi mereka. Faktor-faktor seperti kepribadian, keterampilan, dan pengalaman hidup tetap berperan penting dalam membentuk identitas seseorang.
Baca juga:Â Deretan Negara dengan Kasus Kebocoran Data Terbesar di Dunia
Penelitian ini mengingatkan kita bahwa status sosial dapat memengaruhi banyak aspek kehidupan, bahkan hal-hal yang mungkin tidak kita sadari seperti ekspresi wajah. Namun, penting untuk tidak terjebak dalam stereotip dan tetap melihat seseorang berdasarkan nilai-nilai yang lebih mendalam. (*)














