KARAWANG – Ancaman longsor menghantui dua dusun di Desa Mekarmulya, Kecamatan Telukjambe Barat, Kabupaten Karawang. Lokasi permukiman yang berada di bantaran Sungai Cibeet membuat ratusan warga hidup dalam kecemasan setiap kali debit air meningkat.
Dua wilayah yang terdampak yakni Dusun Mujiah RT 1 RW 1 dan Dusun Leuwisisir RT 2 RW 2. Di Dusun Leuwisisir, beberapa rumah yang berdiri di tebing Sungai Cibeet kini terancam roboh akibat tergerus arus deras. Sementara di Dusun Mujiah, akses jalan desa mulai retak dan berpotensi ambles jika terjadi longsor susulan.
Karyadi (55), warga Dusun Leuwisisir, mengaku rumahnya dalam kondisi rawan. Bagian dapur dan kandang miliknya sudah roboh saat banjir beberapa waktu lalu yang memicu longsor di tebing sungai.
Baca juga: PJU Miring dan Tak Menyala, Fasilitas Publik di Bypass Ahmad Yani Disorot Warga
“Saya tinggal sama anak istri. Longsor waktu banjir kedua, yang kena dapur sama kandang. Kejadiannya sekitar jam 3 subuh, ada suara keras, ternyata sudah roboh,” ujarnya, Rabu (11/2).
Selama 10 tahun tinggal di lokasi tersebut, Karyadi belum pernah merasakan ancaman sebesar ini. Ia berharap ada pembangunan turap permanen untuk menahan abrasi tebing Sungai Cibeet. Namun jika harus direlokasi demi keselamatan, ia mengaku siap.
“Harapannya bisa segera dibangun turap permanen. Kalau memang harus direlokasi, ya sementara harus pindah. Tapi sekarang saya masih tidur di sini karena tidak punya tempat lain,” katanya.
Anggota Satgas BPBD Karawang, Kaming, menyebut dua rumah di Dusun Leuwisisir kini berada dalam kondisi kritis akibat tergerus arus Sungai Cibeet. Upaya pembuatan turap manual menggunakan dana desa sudah beberapa kali dilakukan, namun belum mampu menahan derasnya arus.
“Dua rumah itu terancam tergerus arus Sungai Cibeet. Turap manual yang dibuat warga tetap terbawa arus. Jarak rumah ke bibir sungai tinggal sekitar 30 meter,” ungkapnya.
Menurutnya, penanganan permanen menjadi kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum. Desa telah beberapa kali mengajukan pembangunan turap permanen, termasuk pada 2015 dan kembali diajukan tahun ini, namun belum terealisasi.
Selain ancaman pada rumah warga, jalan utama desa di Leuwisisir bahkan telah terputus akibat longsor sejak 2012 dan belum sepenuhnya pulih.
208 Rumah di Dusun Mujiah Terancam
Sementara itu, Sekretaris Desa Mekarmulya, Yusuf Tonjiri, menjelaskan bahwa di Dusun Mujiah terdapat 258 kepala keluarga (KK), dengan 208 rumah dan sekitar 715 jiwa yang berpotensi terdampak jika longsor menyebabkan akses jalan terputus total.
Pantauan di lapangan menunjukkan badan jalan di Dusun Mujiah sudah mengalami retakan di kedua sisi. Jika tidak segera ditangani dengan pembangunan turap permanen, retakan tersebut dikhawatirkan berkembang menjadi longsor besar.
Baca juga: Dekranasda Kabupaten Karawang Periode Baru, Wabup Tegaskan Dukungan Ekonomi Kreatif
“Di Leuwisisir dua rumah sudah terdampak. Sementara di Mujiah, jalan masih bisa dilalui, tapi kondisinya sudah retak. Panjang titik rawan sekitar 100 meter,” jelasnya.
Pemerintah desa kembali berharap BBWS Citarum segera merealisasikan pembangunan turap permanen guna mencegah meluasnya dampak longsor dan melindungi ratusan warga di bantaran Sungai Cibeet. (*)














