Beranda Pernak Pernik Misteri Santet di Desa Tertutup

Misteri Santet di Desa Tertutup

45

Misteri Santet di Desa TertutupArdi dan kawan-kawannya memasuki hutan dengan langkah hati-hati. Pohon-pohon tua menjulang tinggi, dahan-dahannya seolah meraih ke arah mereka, menyisakan jalan setapak sempit yang semakin gelap. Desir angin malam berbisik seperti nyanyian samar, membuat bulu kuduk mereka berdiri. Di depan, suara gemericik air dari sungai kecil terdengar, namun anehnya, suara itu terdengar lebih dekat daripada yang seharusnya.

Tiba-tiba, Lila—salah satu dari mereka—berhenti dan memegang erat lengan Ardi. “Aku melihat sesuatu,” bisiknya gemetar, matanya terpaku pada bayangan yang bergerak di antara pepohonan. Ardi mengikuti arah pandangnya dan menyadari ada sosok hitam yang bergerak cepat, terlalu cepat untuk ukuran manusia.

“Jangan berhenti,” desis Ardi, berusaha menenangkan diri meski hatinya berdebar kencang. Mereka melanjutkan langkah, semakin dalam masuk ke hutan.

Tak lama kemudian, mereka sampai di sebuah tempat terbuka—sebuah lapangan kecil yang dikelilingi oleh pohon beringin besar. Di tengah lapangan, ada batu besar yang tampak sudah usang, penuh dengan lumut dan akar-akar yang melilit. Di atas batu itu, terdapat sesajen—kembang tujuh rupa, darah hewan, dan boneka kecil yang terbuat dari jerami, disertai jarum-jarum yang menusukinya.

“Lihat ini,” ujar Budi, salah seorang teman Ardi, dengan suara serak. “Ini pasti altar untuk memanggil kekuatan gelap.”

Seketika, suasana menjadi semakin mencekam. Angin berhenti berhembus, dan udara di sekitar mereka terasa menekan. Tiba-tiba, dari balik pohon beringin, muncul sosok berjubah hitam yang sama dengan yang dilihat Ardi sebelumnya. Sosok itu melangkah perlahan, suaranya menggema di udara, “Kalian terlalu jauh… Tidak ada yang bisa menyelamatkan desa ini.”

Ardi menguatkan diri, menatap tajam ke arah sosok tersebut. “Siapa kau? Mengapa kau menghancurkan desa kami?”

Sosok itu tertawa pelan, suara tawa yang dingin dan penuh kebencian. “Aku adalah bagian dari desa ini, bagian dari darah dan daging kalian. Aku hanyalah alat dari seseorang yang jauh lebih kuat.”

Ketika sosok itu berkata demikian, sosok Nyi Sari muncul di balik bayangan, wajahnya terlihat tua dan lelah. Mata Ardi terbelalak. “Nyi Sari…?”

Namun, Nyi Sari tidak menjawab. Ia hanya menunduk, seolah tidak memiliki kekuatan lagi untuk melawan. Lalu, dari kegelapan, muncul seorang pria tua dengan tongkat kayu yang dihiasi jimat-jimat aneh. Ardi mengenali pria itu sebagai Mbah Karso, tetua desa yang jarang terlihat keluar rumah. Namun, ada sesuatu yang berbeda pada Mbah Karso malam itu—auranya terasa gelap, penuh dendam.

“Sudah lama aku menunggu ini,” kata Mbah Karso, suaranya parau. “Kekuasaan ini seharusnya menjadi milikku. Desa ini adalah milikku! Namun mereka menolakku. Sekarang aku memanggil kembali kekuatan yang pernah diusir dari desa ini. Aku yang akan menguasai semuanya!”

Ardi terkejut. “Kau… kau yang melakukan semua ini?”

Mbah Karso tersenyum sinis. “Ya. Aku menggunakan santet untuk membalas dendam. Mereka yang menentangku akan merasakan akibatnya. Dan tidak ada yang bisa menghentikan aku, tidak juga kalian.”

Sebelum Ardi sempat bereaksi, Mbah Karso mengangkat tongkatnya, dan dari tanah, bayangan-bayangan gelap mulai naik, mengelilingi mereka. Lila menjerit, sementara Budi mundur dengan napas terengah. Ardi tahu, mereka harus bertindak cepat atau desa mereka akan hancur selamanya.

Namun, tiba-tiba, Nyi Sari mengangkat tangannya, berusaha melawan dengan sisa kekuatan yang dimilikinya. “Tidak, Karso! Aku tak akan membiarkanmu!” serunya.

Bersambung…….!!!Â