KARAWANG – Sepanjang Januari hingga Oktober 2024, Kabupaten Karawang mencatatkan 147 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Dari data yang dihimpun, kekerasan seksual terhadap anak perempuan mendominasi kasus-kasus tersebut.
Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Kekerasan Perempuan (PKPA) Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Karawang, Hesti Rahayu, menjelaskan bahwa terdapat tujuh jenis kekerasan yang dilaporkan selama periode ini.
Baca juga: Koperasi Simpan Pinjam di Karawang Terus Bertahan di Tengah Maraknya Pinjaman Online
Rinciannya meliputi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) sebanyak 26 kasus, kekerasan fisik 12 kasus, kekerasan psikis 17 kasus, kekerasan seksual 58 kasus, tindak pidana perdagangan orang (TPPO) 4 kasus, penelantaran 7 kasus, serta kasus kekerasan lainnya 23 kasus.
Dari total 147 kasus, kelompok yang paling terdampak adalah anak perempuan dengan 58 kasus kekerasan, termasuk 35 kasus kekerasan seksual. Kekerasan terhadap perempuan dewasa tercatat sebanyak 53 kasus, disusul anak laki-laki dengan 30 kasus, dan laki-laki dewasa sebanyak 6 kasus. “Kekerasan seksual terhadap anak perempuan menempati angka tertinggi, yaitu 35 kasus,” ujar Hesti pada Rabu, 6 November 2024.
Hesti menambahkan, kekerasan seksual terhadap anak laki-laki juga terbilang tinggi, yaitu sebanyak 14 kasus, lebih banyak dibandingkan kekerasan seksual terhadap perempuan dewasa yang tercatat 9 kasus. Sebaliknya, KDRT lebih dominan pada perempuan dewasa dengan 25 kasus.
DPPPA Karawang terus mengupayakan pencegahan dan sosialisasi melalui pembentukan satgas Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) serta penerapan program Sekolah Sahabat Anak (SSA). “PATBM telah dibentuk di 16 desa dan program SSA diterapkan di 90 sekolah mulai dari PAUD hingga SMA,” jelasnya.
Baca juga: Komitmen Anti Narkoba, Unsika Gaungkan Program P4GN untuk Seluruh Sivitas
DPPPA Karawang berharap kesadaran masyarakat untuk melaporkan kasus kekerasan terus meningkat sehingga kekerasan terhadap perempuan dan anak dapat berkurang. “Kami berharap perempuan dapat berdaya dan anak-anak terlindungi,” tutup Hesti. (*)














