Beranda Headline Langkah Teguh dari Yogyakarta ke Depok, Demi Mimpi Sederhana Mencari Pekerjaan

Langkah Teguh dari Yogyakarta ke Depok, Demi Mimpi Sederhana Mencari Pekerjaan

12
Perjalanan teguh dari Yogyakarta ke depok
Langkah penuh harap: Teguh menempuh perjalanan darat dari Yogyakarta menuju Depok dan masih harus menempuh puluhan kilometer (dari Karawang) untuk sampai ke tujuan. (Foto: Istimewa)

KARAWANG – Dengan langkah pelan dan wajah lelah, Teguh berjalan bersama istri dan anaknya di tepi jalan Karawang menuju Depok. Keluarga kecil asal Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) itu sudah hampir sebulan menempuh perjalanan panjang hanya dengan harapan sederhana: mendapatkan pekerjaan.

“Saya ingin ke Margonda, Depok. Perjalanan ini saya mulai sejak akhir Agustus,” ujar Teguh pelan sambil menggenggam tangan anaknya yang tampak kelelahan.

Teguh mengaku, niatnya datang ke Depok semata untuk menemui sanak keluarga yang diharapkannya bisa membantu mencari pekerjaan. Namun, perjalanan itu harus ditempuh dengan berjalan kaki karena keterbatasan biaya.

Baca juga: Bukan Karena Pemborongan, Ini Penyebab Sebenarnya Harga Telur Ayam Naik

“Saya cuma mau minta pekerjaan ke keluarga di Depok. Dari pihak keluarga istri tidak memberi ongkos, dan dari pihak notaris pun tidak ada respons soal masalah saya,” katanya lirih.

Sebelumnya, Teguh bekerja serabutan di Wates, melakukan apa saja demi menghidupi keluarga. Kini, ia menaruh harapan besar agar perjalanan panjang ini berakhir dengan secercah harapan baru.

“Rencananya, dua minggu lagi kami bisa sampai Depok,” ujarnya dengan nada penuh harap.

Selama hampir sebulan di jalan, keluarga Teguh hidup seadanya. Mereka tidur di SPBU atau musala, hanya untuk bisa beristirahat dan membersihkan diri.

“Kami berangkat dari Kulon Progo lewat Magelang, lalu kemarin sore sampai di Karawang. Sekarang kami lanjut lewat Cibarusah–Serang menuju Depok,” tuturnya.

Baca juga: Tolak Kenaikan Pajak 400 Persen, GMNI: Pemerintah Harus Evaluasi Kebijakan

Teguh mengakui bagian terberat adalah saat melintasi Jalur Selatan, yang penuh tikungan tajam dan kendaraan besar. Namun ia tak punya pilihan lain.

“Yang paling berat itu di Jalur Selatan. Tapi mau bagaimana lagi, kami harus terus jalan,” katanya dengan mata menerawang. (*)