Beranda Headline Penyelamat Nyawa di Pesisir Karawang: Kisah Yati Memerangi TBC di Cibuaya

Penyelamat Nyawa di Pesisir Karawang: Kisah Yati Memerangi TBC di Cibuaya

19
Pesisir utara karawang
Menembus jalan berlumpur di Cibuaya, Yati menjadi penyambung tangan layanan kesehatan bagi warga pesisir Karawang. (Foto: Istimewa)

KARAWANG – Dari pusat kota Karawang, butuh waktu lebih dari satu jam untuk mencapai rumah Yati (41), seorang kader kesehatan yang menjadi garda terdepan dalam memerangi Tuberkulosis (TBC) di wilayah pesisir utara Kabupaten Karawang. Tepatnya di Kecamatan Cibuaya, kawasan dengan 11 desa yang dikelilingi tambak, rawa, dan garis pantai yang kian tergerus abrasi.

Rumah Yati di Desa Jayamulya tampak sederhana namun bersih. Di terasnya tergantung jas hujan dan helm—dua perlengkapan wajib saat ia menembus jalanan berlumpur untuk menemui pasien-pasien TBC yang tersebar di pelosok pesisir.

“Silakan, maaf rumahnya sederhana,” ucapnya ramah, membuka percakapan panjang tentang perjuangan yang jarang tersorot publik.

Sejak 2018, Yati menjadi Kader Tuberkulosis (TBC) di bawah Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Jawa Barat, kemudian bergabung dengan Stop TB Partnership Indonesia (STPI) pada 2021 hingga kini. Namun kiprahnya jauh melampaui itu. Sejak tahun 2000, ia sudah aktif sebagai kader posyandu, keluarga berencana, kusta, hingga kesehatan jiwa.

“Saya cuma ingin keberadaan saya berguna bagi orang banyak,” katanya pelan.

Pasien Pertama: Ketika Penyakit Dianggap Guna-Guna

Bulan Oktober 2018 menjadi titik awal yang tak terlupakan. Pasien pertama Yati bukan orang biasa—seorang tokoh terpandang di desa tetangga. Ketika Yati mendekat dan menawarkan pemeriksaan, sang pasien justru menolak karena mengira penyakitnya akibat “guna-guna”.

“Waktu itu saya bilang pelan, ‘Pak, batuknya udah lama ya, takutnya flek, bukan guna-guna.’ Tapi beliau bilang, ‘Ah, saya udah berobat ke mana-mana gak sembuh juga,’” kenang Yati.

Dengan pendekatan sabar dan penuh empati, Yati berhasil meyakinkan sang tokoh untuk melakukan tes dahak. Tiga hari kemudian, hasilnya keluar: positif TBC. Ia pun mendampingi pasien itu selama enam bulan penuh hingga sembuh total.

“Beliau bilang, kalau gak dites mungkin masih percaya kena guna-guna. Saya cuma senyum. Bagi saya, itu kebahagiaan paling besar,” ujarnya haru.

Baca juga: Langkah Teguh dari Yogyakarta ke Depok, Demi Mimpi Sederhana Mencari Pekerjaan

Menembus Lumpur dan Abrasi di Kampung Pisangan

Siang terik di Cibuaya (29/10/2025), Yati bersiap menuju Kampung Pisangan, salah satu titik ekstrem di pesisir Desa Cemarajaya 3. Jalan aspal berganti batu, lalu berubah menjadi kubangan lumpur. Tak ada penerangan malam hari, hanya bau asin laut dan suara ombak di kejauhan.

“Mobil gak bisa lewat sini. Kalau hujan, lumpur sampai ke betis,” katanya.

Di tengah jalan sempit, Yati berhenti di depan rumah Dawen (38) dan Kartono (47), pasangan penyintas TBC yang pernah ia dampingi.

Kartono, mantan terapis pijat, menderita TBC disertai diabetes pada 2021. Berat badannya turun dari 70 kg menjadi 40 kg. “Sempat frustasi, tapi Bu Yati terus datang ngasih semangat,” katanya.

Tiga tahun kemudian, giliran sang istri, Dawen, tertular. “Saya kena 2024, sampai dirawat, darah turun 80, hampir gak kuat. Tapi Bu Yati bantu terus,” tutur Dawen.

Kini keduanya sehat dan justru membantu warga sekitar mengenali gejala TBC. “Kalau ada yang batuk lama, saya suruh periksa dahak. Dulu saya ditolong, sekarang gantian bantu orang,” kata Kartono.

Kader yang Tak Terlihat, Tapi Menyembuhkan
Kader kesehatan
Yati (41), seorang kader kesehatan yang menjadi garda terdepan dalam memerangi Tuberkulosis (TBC) di wilayah pesisir utara Kabupaten Karawang (Foto: Istimewa)

Di wilayah pesisir Karawang, penyakit TBC kerap disalahartikan dan diabaikan. Fasilitas kesehatan jauh, pengetahuan masyarakat rendah, dan stigma sosial tinggi. Di tengah kondisi itu, kader seperti Yati menjadi jembatan antara masyarakat dan layanan kesehatan.

Meski tanpa gaji tetap, Yati tetap berjalan. Insentif yang diterimanya hanya sekitar Rp50.000 hingga Rp100.000 per pasien yang didampingi. Namun baginya, kesembuhan pasien adalah hadiah terbesar.

“Saya cuma pengen orang-orang di sini sehat,” ujarnya dengan senyum yang sederhana tapi tulus.

Atas dedikasinya, Yati menerima penghargaan Kader TBC SO Terbaik Kabupaten Karawang 2024.

Menurut Suci Shofwa, Staf Program Penabulu-STPI IU Karawang, saat ini terdapat sekitar 170 kader TBC di Karawang, dengan 90 di antaranya masih aktif. Mereka melakukan edukasi, investigasi kontak, pendampingan pasien, dan pelaporan.

“Para kader ini ujung tombak sistem kesehatan. Mereka bekerja di wilayah yang kadang tak bisa dijangkau kendaraan, tapi tetap bertahan,” jelas Suci.

Baca juga: Danrem 063/Sunan Gunung Jati Luncurkan Program Santri Maung Siliwangi di Karawang

Lonjakan Kasus TBC di Karawang dan Tantangan Eliminasi

Data Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang menunjukkan peningkatan signifikan kasus TBC dalam empat tahun terakhir.

  • 2020: 4.399 kasus
  • 2021: 5.414 kasus
  • 2022: 8.167 kasus
  • 2023: 12.868 kasus
  • 2024: 13.733 kasus

Hingga September 2025, sudah ditemukan 9.244 kasus baru. “Tren belum bisa dibilang menurun. Kalau stabil, bisa mendekati 12–13 ribu kasus lagi tahun ini,” ujar dr. Yayuk Sri Rahayu, MKM, Kepala Bidang P2P Dinkes Karawang.

Angka kematian juga meningkat: dari 57 kasus (2020) menjadi 305 kasus (2024).

Keterbatasan alat laboratorium, pergantian petugas, dan menurunnya dana hibah internasional memperberat langkah eliminasi TBC. Namun Dinkes Karawang tetap berupaya memperkuat deteksi dini, pengobatan, serta memberi bantuan nutrisi bagi pasien TBC Resistan Obat (TBC-RO).

“Eliminasi TBC bukan hanya urusan obat, tapi juga soal edukasi dan dukungan sosial,” tegas Yayuk. (*)