KARAWANG – Melepas penat setelah bekerja kerap dilakukan dengan cara sederhana, salah satunya menikmati secangkir kopi. Kini hadir Tuparev Street Coffee cabang kedua yang menawarkan suasana berbeda, yakni sensasi ngopi santai di pinggir rel kereta api.
Owner Tuparev Street Coffee cabang kedua, Fikri, mengatakan ekspansi ini dilakukan karena kawasan Tuparev saat ini sudah semakin padat dan kurang mendukung untuk menghadirkan suasana tenang.
Baca juga: Imlek 2026 di KCP Mall Hadirkan Hiburan, Aksi Sosial, dan Program Belanja Menarik
“Saat ini kawasan Tuparev sudah tidak mendukung, jadi saya membuka Tuparev Street Coffee cabang kedua di sebelah rel kereta. Apalagi untuk kami yang sudah usia 30-an,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, konsep Tuparev Street Coffee cabang kedua dibuat lebih dewasa dan matang, menyasar segmen pekerja dan pengunjung usia 30 tahun ke atas yang membutuhkan ruang lebih tenang untuk bersantai maupun berdiskusi.
Menu andalan yang tetap dipertahankan adalah kopi susu, dilengkapi camilan ringan. Khusus bulan Ramadan mendatang, akan ada tambahan menu mie kari untuk melengkapi pilihan berbuka puasa.
“Jumat ini soft opening. Setelah itu tiga hari berjalan, Senin kami libur untuk menyusun strategi jika melihat antusiasme pengunjung,” ujarnya.
Fikri menuturkan, pemilihan lokasi di pinggir rel kereta bukan tanpa alasan. Menurutnya, suasana di sana lebih santai dan tidak seramai kawasan Tuparev yang kini semakin heterogen.
“Di sini targetnya usia 30 ke atas. Sementara Tuparev kami targetkan usia 25-an,” jelasnya.
Coffee Shop cabang kedua ini buka mulai pukul 10.00 WIB hingga 02.00 WIB dini hari. Meski berada di dekat rel kereta, faktor keamanan tetap diperhatikan dengan pemasangan pagar pengaman agar pengunjung tetap nyaman.
Baca juga: Muscab FSP TSK SPSI Karawang Bahas Tantangan Industri dan Kepemimpinan Baru
Selain mengedepankan konsep suasana, Fikri menegaskan bahwa pelayanan menjadi fokus utama dalam pengembangan Tuparev Street Coffee cabang kedua. Ia ingin membangun keunggulan usaha dari kualitas layanan.
“Saya ingin membangun sistem yang berdampak, khususnya bagi mereka yang sedang mencari kerja. Saya tidak mengejar kekayaan, tapi kebermanfaatan,” tutupnya. (*)














