KARAWANG- Komunitas Anak Tangguh Karawang dan Keluarga Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) Strong Together gelar kegiatan fun drawing khusus untuk menggali potensi anak tuli di Karawang.
Inten, Koordinator Penyelenggara kegiatan fun drawing menyebutkan, tujuannya diadakan kelas menggambar ini tidak lain untuk menggali potensi anak penyandang disabilitas sensorik (tuli) agar mereka bisa menyalurkan perasaan, ide dan gagasan melalui gambar.
“Fun drawing ini bagian dari acara kelas projek khusus anak tuli, salah satunya art. Semenjak covid baru pertamakali lagi, kalo dulu sering setahun 2 kali,” ujarnya, Minggu, (28/5) di Fun Zone Area Lantai 5 Festive Walk Mall Karawang.
Baca juga: Jaring Bibit Unggul, Askab PSSI Karawang Resmi Gelar Piala Soeratin 2023
Menurut Inten, menggambar adalah salah satu kegiatan positif yang bisa mendorong siapapun untuk berekspresi. Jadi, ia dan rekan-rekan komunitas ingin anak-anak tuli memiliki wadah positif untuk menggali potensi dan juga bersosial melalui kegiatan fun drawing ini.
Inten juga mengatakan, selain bermanfaat untuk anak, kegiatan ini bisa mendorong para orang tua untuk saling bertemu (sharing) dan saling menguatkan.
“Menggambar itu salah satu cara kita mengajarkan anak untuk berekspresi. Karena banyak banget anak-anak tuli itu yang sulit mengekspresikan diri. Mereka juga bisa bersosialisasi, ketemu temen baru, dapet pengalaman baru. Terus orang tuanya juga bisa ketemu dan saling nguatin,” tuturnya.
Susanti, Pegiat Keluarga Bisindo Strong Together menyampaikan, komunitasnya berkecimpung dalam membimbing anak dengan disabilitas sensorik untuk menggali bakat dan potensi. Timnya berpengalaman membimbing anak-anak tuli dalam projek art and craft secara intensif sampai karya-karyanya bisa dipamerkan.
Baca juga: Sri Rahayu Agustina Kembali Nahkodai SOKSI Karawang Periode 2023-2028
“Kebetulan kami sudah jalin kerjasama dengan yang di Jakarta, itu anak-anak bener-bner dibimbing sampai buka pameran, karyanya dilelang. Untuk yang di Karawang ini, paling tidak untuk wadah ekspresi anak-anak dulu, mereka juga jadi punya kesempatan besar untuk bergaul, terus kita juga punya bahan untuk kenal mereka lewat gambar,” ungkapnya.
Ia menerangkan, biasanya anak tuli memiliki penglihatan lebih tajam dan lebih peka terhadap hal visual. Karena menurutnya ketika ada satu indra yang tidak berfungsi, maka indra yang lain akan berfungsi secara lebih tajam.
“Anak tuli dengan kita itu perbedaannya cuman cara komunikasi aja. Pada dasarnya anak-anak ini bahasanya beda dengan kita, mereka juga berkomunikasi tapi menggunakan mata, tangan dan indra lainnya,” terangnya.
Susanti menggarisbawahi, pihaknya tidak memanggil anak tuli dengan sebutan tuna rungu. Sebab, menurutnya tuna memiliki arti ‘rusak’ dan anak-anak tuli baginya tidak rusak apalagi kekurangan.
“Tuli adalah orang yang berisyarat, cara komunikasi mereka adalah identitas dan budaya otentik tersendiri. Anak kami tidak rusak, mereka dilahirkan demikian dan sempurna. Produk Allah itu tidak ada yang cacat,” pungkasnya.














