
Akhirnya kala itu, PHE ONWJ memilih ban bekas untuk membuat appostrap sebagai peredam ombak dan menangkap sedimentasi laut.
Baca juga: Ending: Misteri Santet di Desa Tertutup
Cara kerjanya sederhana, ban-ban bekas itu dirangkai sedemikian rupa hingga membentuk segitiga. Appostrap dirangkai sepanjang bibir pantai hingga 600 meter.
Setelah Appostrap berhasil menangkap sedimentasi seluas dua meter, kemudian dipasangkan kotak kayu berukuran 4×4 di belakang Appostrap, yang kemudian ditanami 400 bibit mangrove di dalam kotak.
“Ada lima kotak, masing-masing 400 bibit,” kata dia.
Uji coba itu pun berhasil, tumpukan lumpur sedimentasi terperangkap dan mengendap pada rangkaian ban bekas. Tumpukan lumpur meninggi hingga membentuk daratan baru yang diselimuti pohon mangrove.
Baca juga: Endang Sodikin Dilantik sebagai Ketua DPRD Karawang 2024-2029, Rapat RAPBD Perubahan Segera Dimulai
Jadi ekowisata baru
Penanggung Jawab Program TJSL (Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan) PHE ONWJ Iman Teguh mengungkapkan, hingga saat ini sudah ada ratusan ribu pohon mangrove melindungi Desa Pasir Putih dengan luas kurang lebih 20 hektare di sepanjang pantai Pasir Putih.
Alhasil, kata dia, setiap akhir pekan, 500 wisatawan berkunjung. Efek domino perekonomian dirasakan dari parkiran Rp5.000, harga tiket Rp5.000 dan UMKM dengan berbagai produk rajungan dan mangrove.
Dia menjelaskan, TJSL yang dilakukan Pertamina tidak ingin hanya bersifat filantropi atau hanya charity semata. TJSL yang dilakukan harus sangat bermanfaat untuk masyarakat seperti memberikan efek ekonomi, kelestarian lingkungan dan keberlanjutan untuk masyarakat.
“Kami ingin ada efek domino yang sangat besar untuk masyarakat. Tidak hanya sementara,” tutupnya. (*)













