Beranda Headline Ketua MUI Karawang: Adab Santri Bukan Pengkultusan, Tapi Akhlak Islami

Ketua MUI Karawang: Adab Santri Bukan Pengkultusan, Tapi Akhlak Islami

3
Ketua MUI karawang
Ketua MUI Karawang, Tajudin Nur, menanggapi polemik tayangan televisi yang dinilai menyesatkan publik tentang kehidupan pesantren. Ia menegaskan adab santri adalah akhlak, bukan pengkultusan. (Foto: Istimewa)

KARAWANG – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Karawang, Tajudin Nur, menanggapi polemik tayangan di salah satu stasiun televisi nasional Trans7 yang dinilai menggambarkan kehidupan pesantren secara keliru. Ia menegaskan bahwa sikap hormat santri kepada kiai bukan bentuk pengkultusan, melainkan wujud adab dan akhlak yang menjadi bagian penting dari tradisi pendidikan Islam.

“MUI Kabupaten Karawang mengecam keras penayangan Trans7 tentang pesantren, terutama soal Pesantren Lirboyo. Tayangan itu tidak proporsional. Mestinya pahami dulu lingkungan pesantren sebelum berkomentar,” ujar Tajudin Nur, Kamis (16/10/2025).

Menurut Tajudin, tayangan tersebut seolah menampilkan pesantren sebagai tempat dengan perilaku santri yang berlebihan terhadap kiai. Padahal, tindakan seperti berjalan merunduk atau duduk lebih rendah dari guru merupakan bentuk penghormatan dan adab santri, bukan penyimpangan.

Baca juga: FOSJA Kecam Tayangan Trans7, Dinilai Hina Marwah Kiyai

“Itu bukan tradisi berlebihan, tapi akhlak santri terhadap yang lebih tua, apalagi kepada guru atau kiai. Santri ngesot karena posisi kiai duduk, supaya tidak lebih tinggi dari gurunya. Itu bagian dari adab, bukan pengkultusan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Ketua MUI Karawang ini menekankan bahwa nilai utama dalam pendidikan pesantren adalah prinsip ‘adab sebelum ilmu’. Dalam pandangan Islam, akhlak menjadi fondasi penting dalam proses menuntut ilmu dan membangun hubungan antara santri dan guru.

“Inilah yang disebut adab dulu baru ilmu (al-adabu qabla al-‘ilm). Kalau adab hilang, maka berkah ilmu pun hilang,” ujarnya.

Menanggapi tudingan bahwa perilaku santri merupakan bentuk ritual menyimpang, Tajudin menegaskan bahwa tindakan tersebut merupakan tabarukan, yaitu mencari keberkahan dari guru atau ulama yang dihormati.

“Tidak ada penyimpangan nilai di situ. Dalam pesantren, santri menghormati gurunya karena berharap mendapat berkah ilmu. Itu bentuk tabarukan, bukan ritual menyimpang,” tegasnya.

Tajudin juga mengimbau masyarakat agar lebih bijak dalam menyikapi tayangan televisi maupun potongan video di media sosial yang menampilkan kehidupan pesantren.

Baca juga: Pimpinan Ponpes Karawang Kecam Tayangan Trans7 yang Dinilai Lecehkan Ulama

“Jangan cepat menilai dari apa yang dilihat. Pahami dulu konteksnya, apakah yang dikatakan itu membawa manfaat atau justru mudarat,” katanya.

Ia pun menegaskan bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan moral dan karakter bangsa yang perlu dijaga kehormatannya.

“Kalau salah paham terhadap pesantren, maka kita sedang mengikis nilai-nilai luhur pendidikan bangsa sendiri,” pungkas Ketua MUI Karawang itu. (*)