
KARAWANG – Kabupaten Karawang, Jawa Barat, tidak hanya dikenal sebagai kawasan industri, tetapi juga menyimpan warisan budaya yang berharga. Salah satunya adalah Kelenteng Sian Djin Ku Po, tempat ibadah Tionghoa tertua di Karawang yang telah berdiri sejak abad ke-18.
Ketua Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Karawang, Obar Subarja, menjelaskan bahwa menurut para sesepuh, Kelenteng Sian Djin Ku Po yang terletak di Jalan Muhammad Toha No. 9, Kelurahan Tanjungmekar, Kecamatan Karawang Barat, diperkirakan telah ada sejak tahun 1600–1700-an.
“Kelenteng ini bukan hanya dikenal oleh masyarakat Karawang, tetapi juga oleh umat dari luar daerah yang datang untuk beribadah maupun berziarah,” ujar Obar kepada tvberita, Selasa, 10 Juni 2025.
Baca juga: Jejak Sejarah Rengasdengklok: Tugu Kebulatan Tekad Menuju Cagar Budaya
Nama Sian Djin Ku Po diambil dari nama Mak Ku Po, seorang nenek yang dikenal karena kebaikannya dalam menolong sesama di Tiongkok. Abu dari Mak Ku Po dibawa oleh tiga marga Tionghoa—Lauw, Tjiong, dan Khouw—yang merantau dari Sungai Huang Ho.
Ketiga marga tersebut berlayar hingga tiba di muara Cabangbungin, wilayah yang kini masuk Kabupaten Bekasi. Mereka lalu menyusuri Sungai Citarum ke hulu dan menetap di persimpangan antara Sungai Cibeet dan Citarum. Di sanalah mereka mendirikan tempat ibadah yang kini dikenal sebagai Kelenteng Sian Djin Ku Po.
Kelenteng ini telah mengalami beberapa pemugaran. Renovasi besar pertama dilakukan tahun 1791 dengan mengubah arah pintu masuk dari barat ke timur berdasarkan petunjuk ahli feng shui (hong sui). Tahun 1830, altar dipindahkan sekitar 100 meter dari posisi awal. Pada 1863–1865, dilakukan pembangunan ulang dengan bahan batu bata, dan terakhir, pemugaran pada tahun 1985. Saat ini, pengelolaan kelenteng berada di bawah naungan Yayasan Sian Djin Ku Poh.
Baca juga: Rumah Tambi: Jejak Budaya di Tabalong Cirebon
Di dalam Kelenteng Sian Djin Ku Po, terdapat sembilan altar utama, yang masing-masing memiliki makna spiritual tersendiri:
1. Altar Sang Hyang Adi Budha (Shang Di/Thien/Thian Kung) – sebagai representasi Tuhan Yang Maha Esa.
2. Altar Sam Kwan Tay Tee – pemujaan kepada penguasa langit, bumi, dan air.
3. Altar Mun Sen – penjaga pintu spiritual, digambarkan dalam bentuk dua malaikat.
4. Altar utama Sian Djin Ku Po – dewa pelindung bagi masyarakat dari Kwang Tung dan Fu Kian, terutama pedagang dan perantau.
5. Altar To Tie Kong – dewa bumi pelindung manusia dari roh jahat.
6. Altar Sakyamuni Buddha (Se Jia Mou Ni Fo) – mewakili Buddha sejarah dalam ajaran Mahayana.
7. Altar Si Im Po Sat (Dewi Welas Asih) – dihormati lintas kepercayaan di Asia Tenggara.
8. Altar Liung Shen Pa Kung – dewa pengatur hujan, didampingi Lei Shen si pembuat petir.
9. Altar Fu De Zheng Shen – dewa bumi yang membagikan rezeki.
Baca juga: Bendungan Walahar Karawang Menuju 1 Abad, Diusulkan Jadi Cagar Budaya
Warisan Budaya dan Simbol Toleransi
Keberadaan Kelenteng Sian Djin Ku Po tidak hanya mencerminkan nilai-nilai spiritual komunitas Tionghoa, tetapi juga memperlihatkan kerukunan dan toleransi antarumat beragama di Karawang. Kelenteng ini menjadi bukti bahwa sejak ratusan tahun lalu, masyarakat multikultur telah hidup berdampingan secara harmonis.
Kini, Kelenteng Sian Djin Ku Po menjadi salah satu destinasi wisata religi dan budaya yang wajib dikunjungi di Karawang. Selain sebagai tempat ibadah, kelenteng ini juga menjadi cagar budaya yang memperkaya khazanah sejarah Indonesia. (*)













