Beranda Headline Hujan Berkepanjangan, BPBD Karawang Siaga Hadapi Potensi Bencana

Hujan Berkepanjangan, BPBD Karawang Siaga Hadapi Potensi Bencana

29
Potensi bencana karawang
Kepala Pelaksana BPBD Karawang, Mahpudin (Foto: Istimewa)

KARAWANG – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karawang mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai potensi bencana di awal tahun 2025, menyusul intensitas hujan yang berlangsung cukup lama di wilayah tersebut.

“Kami sampaikan bahwa dalam dua hari terakhir, Karawang diguyur hujan dengan intensitas sedang, namun curah hujan berlangsung lama, dari pagi hingga malam, bahkan berlanjut hingga pagi berikutnya,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Karawang, Mahpudin, saat diwawancarai pada Selasa, 21 Januari 2025.

Baca juga: Aktivasi IKD di Karawang Capai 186.397, Target 2025 Masih Dikejar

Menurut Mahpudin, pihaknya telah membuka posko siaga bencana untuk mengantisipasi potensi banjir, banjir bandang, cuaca ekstrem, gelombang tinggi, abrasi, dan tanah longsor akibat cuaca hujan yang terus-menerus.

Potensi Bencana Karawang yang Harus Diwaspadai
1. Banjir

Mahpudin menjelaskan, tingginya debit air di sungai-sungai utama Karawang meningkatkan risiko banjir.

“Debit air yang tinggi sudah menyebabkan banjir di Kecamatan Telukjambe Barat, Karangligar, dengan ketinggian air sekitar 30 cm. Meski tidak terlalu tinggi, tetap harus diwaspadai,” ungkapnya.

Karawang memiliki tiga aliran sungai besar—Cilamaya, Citarum, dan Cibeet—yang menjadi titik kritis banjir. Sungai Cibeet berpotensi membanjiri Karangligar dan Mekarmulya, sementara Citarum dapat berdampak pada Mekajati dan Tanjungpura. Sungai Cilamaya berpotensi menyebabkan banjir di wilayah muara serta perumahan di Desa Tegalwaru. Selain itu, banjir perkotaan dapat terjadi akibat drainase yang tersumbat.

Baca juga: Bupati Karawang Tinjau TPST Mekajati, Dorong Efisiensi Pengelolaan Sampah

2. Longsor

Wilayah dengan ketinggian di atas 100 meter di atas permukaan laut (MDPL) seperti Ciampel, Pangkalan, dan Tegalwaru memiliki risiko longsor. “Kami kerap menerima laporan longsor dari wilayah selatan Karawang yang memiliki kemiringan curam,” jelas Mahpudin.

3. Banjir Rob

Banjir rob berpotensi terjadi di sepanjang pesisir utara Karawang, terutama di wilayah Sedari dan Cemarajaya. Menurut prediksi BMKG, gelombang tinggi telah menyebabkan banjir rob dengan ketinggian sekitar 50 cm di 9 kecamatan dan 13 desa di kawasan pesisir.

Mahpudin mengimbau nelayan untuk tidak melaut sementara waktu karena cuaca yang kurang bersahabat. (*)