Julang Emas dalam IUCN Red List masuk dalam kategori Vulnerable (VU) atau rentan dan Appendiks 2 CITES. Sedangkan Enggang Cula mempunyau status keterancaman dalam IUCN Red List dengan kategori Vulnerable (VU) dan Appendiks II CITES, dan Kangkareng Perut Putih masuk dalam kategori Least Concern (LC) atau resiko rendah dalam daftar merah IUCN dan Appendiks 2 CITES.
IUCN adalah uni internasional untuk konservasi alam yang mengelompokkan tumbuhan dan satwa dalam status keterancaman, sedangkan CITES atau Convention on International Trade Endagered Species of Wild Fauna and Flora adalah konvensi perdagangan internasional tumbuhan dan satwa liar terancam.
Teridentifikasinya 3 jenis burung yang terkenal sebagai petani hutan ini berawal dari laporan masyarakat Talaga yang melaporkan ada burung julang yang bersarang dan sedang mengeram di dalam hutan Gunung Sanggabuana.
Baca juga: Kreasi Kuliner Unik: Resep Membuat Keripik Jengkol yang Gurih dan Lezat
Masyarakat yang melapor kepada Ranger SCF ini mengaku ditawari oleh pedagang dan pemburu satwa liar untuk mengambil anaknya dan akan dibeli Rp 400.000.
Oleh SCF kemudian dilakukan edukasi kepada masyarakat yang berprofesi sebagai pencari madu hutan ini untuk menjaga sarang dan akan diadopsi sarangnya supaya masyarakat mendapat manfaat ekonomi dan burung yang mengeram tetap terjaga.
“Sebelumnya tigas jenis burung Rangkong ini, juga beberapa jenis raptor seperti Elang Bido dan Elang Jawa banyak diburu masyarakat untuk diperjualbelikan. Sekarang dengan edukasi dari SCF masyarakat mulai menjaga sarang burung di hutan, dan mendapat manfaat dari adopsi sarang dan guide atau pemandu birdwatching trip,” jelas Deby yang sudah ikut mendata keanekaragaman hayati Pegunungan Sanggabuana bersama SCF sejak tahun 2020.
Deby bersama tim Ranger kemudian mengajak masyarakat untuk ke hutan dan mendokumentasikan ketiga jenis Rangkong di hutan Sanggabuana. Masyarakat yang ikut sekaligus diedukasi dan dilatih untuk menjaga hutan dan isinya, serta menjadi guide birdwatching. Masyarakat yang menjaga sarang burung ini beasal dari desa-desa sekitaran Sanggabuana yang masuk wilayah Bogor, Cianjur, Karawang, dan Purwakarta.
Lukman dan Nurman, kedua warga Desa Mekarbuana yang berprofesi sebagai pencari madu hutan sekarang mendapat manfaat dari menjaga sarang burung di hutan.
Pada Sabtu, 7 Oktober 2023, ditemui di Curug Cigeuntis, Mekarbuana, Nurman yang baru saja turun dari hutan selama 3 hari memandu fotografer hidupan liar mengaku mendapat upah Rp 500.000 sebagai guide selama 3 hari menunjukkan sarang rangkong untuk difoto.
Lukman yang menjadi porter bersama dengan Nurman pun juga mendapat bayaran lumayan ketika ikut ke hutan bersama Nurman.
Hasil yang diterima sebagai guide dan porter ini tidak hanya sekali diterima mereka berdua. Jika ada yang mengadopsi sarang yang ditemukan dan dijaganya maka mereka berdua akan mendapat bayaran lagi. Dan ketika mengantar fotografer ke sarang lagi, mereka akan mendapat bayaran lagi.
“Duitnya lebih besar daripada jualan anak burung yang diambil dari hutan,” tegas Nurman.
Deby berharap pola menjaga sarang dan membuka peluang adopsi sarang ini bisa ditiru oleh masyarakat lain di sekitar hutan Sanggabuana, terutama para pemburu supaya mereka beralih profeesi.
“Selain penghasilannya lebih besar, mereka bisa terhindar dari jerat hukum. “Pedagang satwa liar dilindungi di Bogor pernah kita laporkan ke Polres Bogor dan sekarang sudah dipidana penjara 2 tahun dan denda 10 juta. Yang beralih menjaga sarang sekarang mereka mendapat penghasilan yang lebih besar dari pemburu. Untuk masyarakat yang ingin mengadopsi sarang burung bisa menghubungi SCF,” tutup dia. (*)













