“Kalian tidak akan pernah bebas… Kekuatan gelap ini akan selalu ada di desa ini… sampai waktu kalian habis!”
Dengan teriakan terakhir, Mbah Karso lenyap di dalam tanah, bersama akar-akar beringin yang menelannya. Tanah kembali menutup, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Keheningan menyelimuti tempat itu. Ardi, Lila, Budi, dan Nyi Sari berdiri terpaku, napas mereka tersengal. Kekuatan gelap yang menyelimuti desa itu terasa mulai memudar, dan udara di sekitar mereka kembali normal.
Nyi Sari akhirnya terjatuh, kelelahan. Ardi bergegas mendekat, membantu Nyi Sari berdiri. “Apa yang sebenarnya terjadi, Nyi?” tanya Ardi dengan suara gemetar.
Nyi Sari menghela napas panjang. “Mbah Karso dulu pernah belajar ilmu hitam dari seorang dukun santet legendaris yang diusir dari desa ini. Ia tidak pernah puas dengan kekuatan yang dimilikinya dan selalu merasa diabaikan oleh penduduk desa. Akhirnya, dia memanggil kekuatan gelap itu untuk balas dendam.”
“Apakah ini sudah berakhir?” tanya Lila, suaranya masih dipenuhi kecemasan.
Nyi Sari menggeleng pelan. “Tidak sepenuhnya. Santet adalah kekuatan yang berasal dari dendam dan kebencian. Meski Mbah Karso telah lenyap, kekuatan itu masih bisa muncul kembali jika ada yang berani memanggilnya.”
Ardi menatap langit yang mulai cerah. “Kalau begitu, kita harus memastikan bahwa tidak ada yang memanggilnya lagi.”
Dengan langkah perlahan, mereka kembali ke desa, meninggalkan altar dan semua rahasia gelap yang terkubur bersama Mbah Karso. Namun, di benak mereka, terukir peringatan bahwa di balik keindahan desa, kekuatan gelap selalu mengintai, menunggu saatnya untuk bangkit kembali. (*)














