beritapasundan.com – Perajin boboko (anyaman bambu berbentuk keranjang tradisional) di Cirebon menghadapi tantangan besar akibat perubahan zaman. Seiring perkembangan teknologi dan peralihan masyarakat ke produk modern, kerajinan boboko mulai tersisih.
Meski begitu, para perajin di wilayah ini tetap berjuang mempertahankan warisan budaya leluhur agar tidak punah.
Salah satu perajin, Bapak Sahid, menyatakan bahwa pembuatan boboko memerlukan ketelatenan dan keterampilan yang didapat dari generasi sebelumnya. Proses pembuatannya melibatkan pemilihan bambu berkualitas, pemotongan, penganyaman, hingga penyelesaian akhir.
Baca juga: Gebodan: Tradisi Perontok Padi Indramayu yang Hampir Punah
“Kami bangga bisa membuat boboko, karena ini bukan hanya kerajinan, tetapi identitas budaya kami,” ujar Bapak Sahid.
Namun, tantangan besar datang dari minimnya permintaan. Banyak generasi muda yang lebih memilih wadah modern berbahan plastik atau logam. Selain itu, kerajinan ini memerlukan waktu dan tenaga lebih, sedangkan harga jual boboko sulit bersaing dengan produk buatan pabrik.
Untuk bertahan, beberapa perajin di Cirebon mulai mengembangkan desain baru, seperti boboko mini sebagai souvenir atau dekorasi rumah, yang menarik bagi wisatawan. Selain itu, pemerintah daerah dan komunitas seni terus memberikan dukungan berupa pelatihan dan promosi melalui pameran kerajinan lokal. Inovasi ini diharapkan dapat membuka peluang pasar baru bagi boboko Cirebon.
Baca juga: Cara Efektif Membakar Lemak Setelah Makan Gorengan
Para perajin berharap boboko tidak hanya dilihat sebagai benda fungsional, tetapi sebagai karya seni bernilai sejarah yang perlu dilestarikan. Dukungan masyarakat dan pemerintah sangat diharapkan agar kerajinan boboko dapat terus bertahan menghadapi arus zaman. (*)














