KARAWANG – Banjir Karawang yang kini melanda tiga kecamatan diperkirakan akan semakin meningkat dalam dua hari ke depan. Luapan air dari Sungai Cibeet dan Sungai Citarum menjadi pemicu utama banjir yang telah merendam wilayah Telukjambe Barat, Telukjambe Timur, dan Karawang Barat sejak awal pekan ini.
Satgas Penanggulangan Bencana (PB) Telukjambe Barat, Kaming, mengungkapkan bahwa posisi geografis Karawang yang dekat dengan aliran dua sungai besar tersebut menjadikannya rawan terhadap luapan air, terutama ketika curah hujan tinggi terjadi di daerah hulu.
“Air laut dan kawasan hulu seperti Bogor dan Purwakarta saat hujan deras akan mendorong debit Sungai Cibeet dan Citarum meningkat, sehingga menyebabkan banjir Karawang makin parah,” ujar Kaming saat ditemui pada Selasa, 8 Juli 2025.
Baca juga: Banjir Karawang Meluas: Tiga Kecamatan Terendam, Evakuasi Warga Masif
Ia menambahkan, warga terdampak diminta terus waspada terhadap potensi banjir lanjutan yang bisa terjadi sewaktu-waktu, mengingat intensitas hujan masih tinggi dan debit air sungai belum menunjukkan tanda surut.
“Kami himbau masyarakat untuk menjaga keselamatan diri dan segera mengungsi jika kondisi air naik. Jangan lengah,” katanya.
Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Karawang, Ferry Muharram, menjelaskan bahwa peringatan dini telah dirilis oleh BMKG Jawa Barat. Cuaca ekstrem diperkirakan masih akan melanda sejumlah wilayah termasuk Karawang dalam dua hingga tiga hari ke depan.
“BMKG merilis peringatan cuaca tiga harian dari 8 hingga 10 Juli 2025. Wilayah seperti Bogor, Bekasi, Depok, Sukabumi, Cianjur, dan tentu saja Karawang, diperkirakan diguyur hujan deras,” jelas Ferry.
Baca juga: 18 Tahun Banjir, Warga Dusun Pangasinan Karawang Belum Juga Direlokasi
BPBD Karawang terus melakukan pemantauan di wilayah rawan banjir Karawang, khususnya yang dekat dengan aliran Sungai Cibeet, serta mempercepat distribusi logistik ke pos-pos pengungsian bagi warga terdampak.
“Kami tidak hanya siaga di lapangan, tapi juga memperkuat logistik dan koordinasi antarinstansi agar penanganan darurat tetap optimal,” pungkasnya. (*)














