
KARAWANG – Inovasi dalam dunia pendidikan dan pelestarian budaya batik terus berkembang mengikuti kebutuhan zaman. Salah satu terobosan terbaru hadir melalui karya Firman Sugianto Putra (26), lulusan Akademi Teknik Mesin Industri (ATMI) Cikarang yang berhasil menciptakan Kompor Batik Listrik sebagai solusi modern untuk mendukung pelatihan membatik di sekolah maupun kegiatan edukasi masyarakat.
Firman yang kini menjabat sebagai Direktur PT Cinta Batik Karawang merupakan putra dari pasangan pengrajin batik, Sugianto dan Lilis Isnariyani W, pendiri Sanggar Putri Damar Batik di Karawang. Selain aktif mengembangkan usaha keluarga, Firman juga bekerja sebagai karyawan di PT Adyasa Stamping Industries Karawang.
Berbekal latar belakang teknik industri, Firman mengembangkan Kompor Batik Listrik dengan teknologi hemat energi yang mampu menjaga kestabilan suhu malam atau lilin batik. Inovasi ini dirancang sebagai jawaban atas kebutuhan pengrajin yang selama ini masih bergantung pada kompor berbahan bakar minyak tanah.
“Kompor ini dibuat supaya membatik lebih aman, nyaman, dan hemat energi, terutama untuk kegiatan pelatihan membatik di sekolah,” ujar Sugianto pada, Rabu (20/5).
Baca juga: Dari Duka Menjadi Karya, Sanggar Putri Damar Batik Konsisten Melestarikan Budaya
Menurutnya, ide pembuatan Kompor Batik Listrik muncul karena harga minyak tanah yang terus meningkat dan semakin sulit diperoleh. Kondisi tersebut mendorong keluarga mereka untuk mencari alternatif yang lebih efisien sekaligus mendukung pelestarian budaya batik.
Berbeda dengan kompor batik listrik lain yang umumnya membutuhkan daya besar, produk buatan PT Cinta Batik Karawang ini hanya memerlukan daya maksimal 40 watt dengan tegangan 220 volt AC. Konsumsi listrik yang rendah membuat Kompor Batik Listrik lebih hemat biaya sekaligus aman digunakan dalam kegiatan sekolah maupun sanggar seni.
Selain tidak menghasilkan asap, risiko panas berlebih juga lebih kecil sehingga peserta didik dapat belajar membatik dengan lebih nyaman.
“Inovasi ini memang kami arahkan untuk mendukung pelatihan membatik di sekolah-sekolah dan pengembangan bakat siswa,” kata Sugianto.
Dirancang untuk Praktik Membatik yang Aman dan Efisien
Kompor Batik Listrik produksi PT Cinta Batik Karawang dipasarkan dengan merek CBK dan menggunakan dudukan berbahan stainless steel. Produk ini memiliki diameter sekitar 15 sentimeter serta dilengkapi garansi selama dua bulan.
Terdapat dua varian yang ditawarkan. Pertama, model dudukan kayu yang dilengkapi laci penyimpanan alat membatik seperti canting, malam, dan pewarna dengan harga sekitar Rp215 ribu. Kedua, model dudukan stainless yang dibanderol sekitar Rp155 ribu.
Selain ringan dan mudah dibawa, desain Kompor Batik Listrik dibuat praktis untuk mendukung pelatihan membatik secara berkelompok. Stabilitas panas yang dihasilkan juga membantu proses pencairan malam menjadi lebih optimal, sehingga memudahkan siswa maupun peserta pelatihan saat praktik.
Sugianto mengungkapkan, produk inovatif dari Karawang tersebut kini mulai digunakan di berbagai kegiatan edukasi batik. Bahkan, salah satu sanggar batik telah memesan puluhan unit untuk mendukung program pelatihannya.
Baca juga: Peringati Harkitnas ke-118, Pemkab Karawang Ajak Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara
“Kami ingin produk lokal Karawang punya nilai inovasi sekaligus membantu pelestarian budaya batik di tengah generasi muda,” ujarnya.
Melalui PT Cinta Batik Karawang, Firman dan keluarganya berharap Kompor Batik Listrik dapat menjadi solusi bagi para pengrajin dan dunia pendidikan dalam mengenalkan batik secara lebih modern, aman, dan efisien.
Dengan inovasi sederhana namun berdampak besar ini, pelestarian budaya batik diharapkan semakin dekat dengan generasi muda dan terus berkembang mengikuti kemajuan zaman. (*)













