KARAWANG – Regenerasi petani menjadi salah satu isu utama yang dihadapi sektor agrikultur Indonesia. Sebagai salah satu lumbung padi nasional, Karawang memikul tanggung jawab besar dalam menghadapi tantangan ini. Young Ambassador Agriculture 2024 asal Karawang, Rifki Habibi, menyampaikan pandangannya terkait langkah strategis untuk menarik generasi muda ke dunia pertanian.
Baca juga: RSUD Jatisari Berikan Layanan Gratis di Harlah KORPRI ke-53
Menurut Rifki, regenerasi petani membutuhkan pembaruan menyeluruh, termasuk perbaikan tata niaga, penguatan kelembagaan, peningkatan kompetensi, dan adopsi teknologi modern. “Teknologi pertanian dapat menjadi magnet untuk menarik minat generasi muda ke sektor agrikultur,” ujarnya pada Jumat, 29 November 2024.
Ia juga menyoroti pentingnya program pemerintah untuk mencapai swasembada pangan melalui langkah strategis, seperti pembukaan 3 juta hektare lahan sawah baru di luar Pulau Jawa. Rifki menyebutkan, program seperti brigade pangan yang digagas Kementerian Pertanian berpotensi meningkatkan pendapatan petani muda hingga Rp10 juta per bulan melalui mekanisasi modern dan pengelolaan berbasis korporasi.
“Namun, pemerintah juga harus tetap fokus menjaga daerah lumbung pangan di Jawa Barat, termasuk Karawang, Subang, dan Indramayu,” tegas Rifki.
Sebagai petani muda, Rifki mengaku masih menghadapi kendala besar, salah satunya sulitnya akses terhadap alat mekanisasi. Biaya sewa alat seperti traktor roda empat, yang mencapai Rp3,5 juta per hektare, menjadi tantangan tersendiri bagi petani muda.
Untuk mengatasi kendala ini, Rifki menggarisbawahi pentingnya pembinaan usaha tani bagi generasi muda, serta penyediaan bantuan mekanisasi pertanian, seperti drone, traktor, dan teknologi berbasis IoT (Internet of Things) smart farming. Ia juga mendorong pemuda untuk bergabung dengan UPTD Penyuluh Pertanian terdekat agar dapat masuk dalam sistem penyuluhan dan menerima dukungan dari pemerintah.
Baca juga: Live TikTok di Tengah Banjir: Cara Kreatif Warga Karangligar Atasi Frustrasi
“Kolaborasi antara pemerintah pusat, provinsi, daerah, dan komunitas petani muda sangat penting untuk menjaga keberlanjutan sektor agrikultur di Indonesia,” ungkap Rifki. Ia berharap, regenerasi petani dapat menjadi tonggak bagi keberlanjutan sektor pertanian Indonesia. (*)














