Beranda Headline Harga Gabah Dibeli se Enak Jidat, Para Petani Karawang Minta Pemerintah Berantas...

Harga Gabah Dibeli se Enak Jidat, Para Petani Karawang Minta Pemerintah Berantas Para Calo

262

KARAWANG- 10 hari menjelang masa panen, petani di Kecamatan Cilamaya Wetan terus di hantui ketakutan. Selain minimnya BBM untuk mesin rontog, keberadaan para calo dinilai meresahkan.

Dikatakan salahsatu petani Sawin (52), sejak masa tanam di mulai, para petani harus bergelut dengan pasokan air agar tetap stabil. Belum lagi proses penyemaian bibit hingga proses tanam yang banyak membutuhkan tenaga maupun biaya.

Sementara menjelang panen, mereka para calo yang tidak sepeser pun mengeluarkan modal, berseliweran mengatur dan menentukan seenak jidat tinggi atau rendahnya harga jual padi milik petani.

“Kita mah petani modal dari awal, mulai dari membajak sawah, semai hingga tanam. Modal duit sudah jelas, modal tenaga sudah jelas tak terhitung. Tau-tau ya pas panen harga di tentukan para calo,” ucapnya kesal.

Baca Juga: Larangan Pakai Jerigen Bikin Pusing, Warga Akali Beli Bensin dengan Cara Begini

Menurutnya, para calo sangat bisa menentukan harga jual padi milik petani kepada pembeli atau bakul. Karena pada umumnya, para bakul ini tidak akan berani masuk ke desa-desa tanpa melalui calo. “Kasarnya mah jatah lah. Dan para calo ini kan kebanyakan menggunakan cara premanis, sementara yang membeli padi dari luar daerah,” katanya.

Dalam sekali panen, para calo tanpa modal ini lah yang di untungkan. Bagaimana tidak, mereka bisa mengantongi keuntungan bersih dari para bakul langsung ke kantong mereka. Adapun besarannya, setiap 10 ton padi hasil penjualan petani, para calo mendapatkan uang Rp 1 juta.

Ia mendesak pihak terkait agar bisa menertibkan para calo ini. Karena dari awal masa tanam, petani sudah banyak di repotkan dengan berbagai hal. Apalagi dengan harga pupuk dan obat-obatan yang selangit. “Gak ada obat-obatan sawah yang harganya di bawah Rp 50 ribu,” terangnya.

Baca Juga: Rusak Parah, Jalan Penghubung Antar Desa di Purwasari Dikeluhkan Warga

Hal senada di katakan petani lainnya Jajat, dalam hal ini posisi petani berada paking atas dalam rantai makanan. Pasalnya, kalau petani sudah tidak mau lagi mengurusi sawahnya, akan berdampak terhadap ketahanan pangan di Indonesia.

Maka dari itu, lanjut Jajat, pemerintah harus benar-benar memperhatikan para pejuang beras ini. Karena mereka yang berasal dari kampung dan rela mengurus sawah dinilai sangat berjasa bagi siklus kehidupan Indonesia. “Jangan malah di korupsi, petaninya malah gak di perhatikan. Gawat itu,” tutupnya dengan nada sebal. (Rok/ddi)