beritapasundan.com – AI (Artificial Intelligence) atau kecerdasan buatan adalah program komputer yang dirancang untuk memudahkan berbagai pekerjaan manusia.
Namun, dengan kemajuan teknologi yang pesat, AI kini tidak hanya membantu tetapi juga mulai menggantikan peran manusia dalam sejumlah pekerjaan, terutama yang bersifat repetitif dan tidak memerlukan penalaran kognitif.
Meskipun demikian, penting untuk diingat bahwa manusia memiliki kemampuan yang jauh lebih kompleks dan beragam dibandingkan AI.
Kecerdasan manusia mencakup aspek emosional, intuisi, hingga pengambilan keputusan berdasarkan konteks dan nilai-nilai moral dan kemanusiaan yang tidak bisa sepenuhnya ditiru oleh program komputer atau robot.
Oleh karena itu, meski AI semakin canggih dan luas penggunaannya, tetap ada bidang-bidang tertentu yang memerlukan sentuhan dan keahlian manusia yang unik, yang tidak dapat tergantikan oleh kecerdasan buatan.
Daftar Pekerjaan yang Tidak Bisa Digantikan AI
Berikut ini adalah beberapa jenis pekerjaan yang hanya mampu dikerjakan oleh manusia dan mustahil digeser sepenuhnya oleh robot maupun kecerdasan buatan:
1. Profesi di Bidang Hukum
Profesi-profesi di bidang hukum, seperti jaksa, hakim dan pengacara adalah pekerjaan yang secara etika hanya boleh dilakukan oleh manusia dan tidak boleh tergantikan oleh robot maupun AI.
Pasalnya, meskipun AI dapat bekerja cukup akurat dalam kemampuan analitis, tetapi penegakan hukum tetaplah harus berlandaskan konteks dan situasi kemanusiaan.
Baca juga: WhatsApp Luncurkan Program Centang Biru ke Beberapa Negara, Indonesia Salah Satunya
2. Tenaga Kesehatan
Saat ini, AI mungkin sudah berkembang menjadi perangkat yang mampu melakukan pemeriksaan tanda-tanda vital, pencatatan medis, hingga pengisian ulang resep. Namun, bagaimanapun profesi dokter tetap tak bisa digantikan oleh robot maupun AI.
Karena dalam prakteknya, profesi ini membutuhkan keterampilan manual dan penilaian kontekstual kompleks yang hanya bisa dilakukan oleh manusia dengan pengalaman klinis yang mendalam.
Selain itu seorang dokter juga harus memiliki aspek kemanusiaan dan empati yang tinggi untuk memberi dukungan emosional kepada pasien. Tentu akan sangat menyeramkan jika tubuh Anda dibedah oleh robot yang tidak memiliki hal-hal tersebut, bukan?
3. Konseling dan Terapis
Pekerjaan konseling dan terapis, seperti psikolog dan psikiater, adalah pekerjaan yang tidak akan mungkin pernah dapat tergantikan oleh AI, karena emosi, intuisi, dan empati adalah skill utama yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan tersebut.
Selain itu, konselor dan terapis juga harus menghadapi berbagai masalah yang unik dengan situasi yang kompleks sehingga dalam penanganannya pun diperlukan pertimbangan moral yang cukup rumit.
Kemampuan tersebut tentu tidak mampu dilakukan oleh AI yang pada dasarnya hanya mampu memproses informasi tanpa mempertimbangkan hal-hal tersebut
Baca juga: 7 Cara Buka Situs yang Diblokir Google Chrome
4. Tenaga Pendidik
Meskipun dalam AI lebih unggul dalam menyajikan informasi terbaru untuk bahan pembelajaran, tenaga pendidik seperti guru dan dosen salah satu profesi yang tidak bisa tergantikan oleh AI.
Hal itu dikarenakan guru bukan hanya bertugas memberikan informasi tapi juga tanggung jawab untuk membangun karakter, memberikan motivasi, serta bimbingan moral dan sosial kepada para muridnya.
Ketika mengajar, guru juga perlu melakukan interaksi yang dinamis dan melakukan evaluasi metode belajar untuk mengukur pemahaman siswa. Kemampuan interpersonal itu lah yang tidak akan mampu ditiru oleh AI.
5. Manajemen Sumber Daya Manusia
Profesi manajemen sumber daya manusia atau yang lebih dikenal juga dengan nama HRD (Human Resources Development) memainkan peran penting dalam mengelola sumber daya manusia di sebuah organisasi secara efektif dengan melibatkan pemahaman emosional yang sulit digantikan oleh AI.
Seorang HRD harus mampu menangani konflik, memberikan dukungan emosional, dan memotivasi karyawan, sehingga memerlukan keterampilan interpersonal dan intuitif.
Selain itu, dalam proses rekrutmen dan seleksi karyawan, seorang HRD juga memerlukan penilaian yang kuat terhadap kecocokan budaya, potensi kepemimpinan, dan soft skills yang dimiliki oleh para kandidat.
6. Keamanan Siber
AI dapat berfungsi sebagai alat bantu yang sangat berharga dalam menganalisis data, mendeteksi pola, dan mengotomatiskan beberapa aspek dari keamanan siber.
Namun, AI maupun robot tidak akan mampu dapat sepenuhnya menggantikan manusia dalam pekerjaan ini karena dunia keamanan siber adalah medan yang selalu berubah, dengan ancaman dan teknik baru yang muncul secara terus-menerus.
Dalam melakukan pekerjaannya, seorang profesional keamanan siber harus membuat keputusan strategis yang mempertimbangkan konteks yang luas, termasuk dampak bisnis, prioritas organisasi, dan regulasi yang sulit ditiru oleh AI.
Baca juga: WhatsApp Luncurkan Program Centang Biru ke Beberapa Negara, Indonesia Salah Satunya
7. Seniman
Meskipun belakangan ini profesi sudah ada beberapa AI yang mampu membuat gambar atau desain hanya dari prompt tulisan, tetapi profesi seniman sendiri adalah profesi yang tidak akan bisa sepenuhnya digantikan oleh AI.
Sebab, dalam penciptaan suatu karya, inovasi dan kreativitas adalah salah satu hal yang hanya mampu dilakukan oleh manusia.
Di lain sisi, sebuah karya seni juga akan lebih berharga nilainya jika terkandung emosi, pesan, dan historis di dalamnya, yang mana AI atau robot manapun tidak akan mampu membuat karya dengan nilai-nilai tersebut.
8. Sales
Di bidang penjualan, AI bisa dimanfaatkan sebagai perangkat yang mengurus administrasi penjualan hingga memudahkan transaksi.
Namun, pekerjaan seorang sales tidak akan pernah dapat digantikan oleh AI karena kemampuan persuasi dan membangun hubungan baik dengan calon pelanggan adalah kemampuan yang tak akan pernah bisa digantikan oleh robot maupun AI.
Baca juga: Tips Singkat Cara Login WhatsApp Dengan Email
9. Jurnalis
Meskibun kombinasi antara teknologi dan jurnalisme manusia bisa menghasilkan jurnalisme yang lebih efisien dan efektif, tetapi sepenuhnya menggantikan jurnalis manusia dengan AI atau robot adalah hal mustahil karena jurnalisme membutuhkan intuisi dan pertimbangan etika.
Selain itu, jurnalis juga memerlukan kemampuan sosial untuk melakukan wawancara kepada narasumber.
Dalam situasi krisis atau peristiwa yang terjadi dengan cepat, jurnalis di lapangan juga harus memberikan laporan langsung, mengumpulkan informasi dari berbagai sumber, dan memberikan pembaruan yang akurat secara real-time.
10. Ilmuwan dan Peneliti
Profesi ilmuwan dan peneliti sulit untuk sepenuhnya digantikan oleh AI karena keterlibatan mendalam kreativitas dan inovasi adalah hal terpenting untuk mengajukan hipotesis baru serta merancang eksperimen baru.
Selain itu, dalam pekerjaannya ilmuwan juga harus membuat keputusan etis mengenai berbagai aspek penelitian, seperti penggunaan subjek manusia atau hewan, dan dampak potensial dari penerapan teknologi baru.
Keputusan ini seringkali memerlukan pertimbangan mendalam dan tanggung jawab sosial yang tidak dapat dengan mudah diotomatisasi. (*)














