KARAWANG — Dinas Kesehatan Karawang mengingatkan masyarakat untuk tidak menganggap remeh gigitan hewan seperti anjing, kucing, atau monyet, yang berpotensi menularkan rabies—penyakit mematikan yang menyerang otak dan sistem saraf pusat manusia serta hewan.
“Rabies adalah penyakit yang sangat serius. Gejalanya bisa muncul dari infeksi ringan hingga kejang akibat rangsangan cahaya,” ujar dr. Hj. Yayuk Sri Rahayu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Karawang, Senin (14/7/2025).
Menurut data hingga Juni 2025, Dinas Kesehatan Karawang mencatat ada 60 kasus gigitan hewan yang dilaporkan. Rinciannya: Januari 14 kasus, Februari 7, Maret 10, April 6, Mei 13, dan Juni 10 kasus.
Hewan yang terinfeksi rabies biasanya menunjukkan perubahan perilaku ekstrem, seperti menjadi agresif, beringas, atau gelisah. Karena itu, penting bagi masyarakat untuk waspada dan mengenali tanda-tanda tersebut.
dr. Yayuk menegaskan pentingnya penanganan cepat setelah terkena gigitan hewan. Langkah pertama adalah mencuci luka dengan sabun dan air mengalir selama minimal 15 menit, lalu mengoleskan antiseptik seperti Betadine atau alkohol, sebelum dibawa ke fasilitas kesehatan.
“Jangan tunggu gejala muncul. Rabies berkembang cepat, dan waktu sangat menentukan keselamatan korban,” tegas dr. Yayuk.
Sebagai pencegahan, vaksin antirabies (VAR) wajib diberikan. Terdapat tiga tahapan: Hari ke-0, ke-7, dan ke-21/28. Dalam kasus berat, pasien juga akan diberi serum antirabies (antivisara).
Dinas Kesehatan Karawang telah bekerja sama dengan seluruh puskesmas dan rumah sakit untuk memastikan ketersediaan dan akses vaksin.
Meski tahun 2024 tidak mencatat kasus rabies pada manusia, masyarakat tetap diminta waspada. Dinas Kesehatan Karawang mengimbau agar hewan peliharaan, khususnya anjing dan kucing, divaksin secara rutin, serta masyarakat menghindari kontak dengan hewan liar.
“Setiap gigitan hewan harus dianggap berpotensi rabies, sampai terbukti sebaliknya,” jelas dr. Yayuk.
Ia menegaskan kembali: rabies adalah penyakit yang bisa dicegah, namun sangat sulit diobati jika gejalanya sudah muncul. Maka dari itu, pencegahan dan pertolongan pertama sangat krusial.
Jangan tunggu sampai parah. Bertindak cepat bisa menyelamatkan nyawa,” tutupnya. (*)














