Beranda Headline Warga Binaan Lapas Karawang Dilatih Jadi Barista hingga Petani, Ini Hasilnya!

Warga Binaan Lapas Karawang Dilatih Jadi Barista hingga Petani, Ini Hasilnya!

9
Warga Binaan lapas karawang
Narapidana di Lapas kelas IIA Karawang mengelola sawah seluas 1,7 hektare (Foto: Istimewa)

KARAWANG – Warga binaan di Lapas Kelas IIA Karawang kini tak hanya menjalani masa hukuman, tetapi juga aktif mengikuti berbagai pelatihan keterampilan sebagai bekal hidup setelah bebas. Pelatihan ini mencakup barista, pembuatan roti (bakery), kerajinan tangan (handicraft), seni tari, pengelasan, hingga budidaya ikan dan pertanian.

Kepala Lapas Kelas IIA Karawang, Christo Toar, menyatakan program pemberdayaan ini bertujuan untuk membentuk kemandirian dan membuka peluang kerja bagi para narapidana pasca-pembebasan.

“Kami ingin para warga binaan di lapas Karawang punya skill, jadi saat keluar nanti mereka tidak bingung mencari pekerjaan,” kata Christo saat ditemui, Selasa (1/7/2025).

Baca juga: Gulai Ayam hingga Sendal, Ini Modus Penyelundupan Narkoba di Lapas Karawang

Produktif di Balik Jeruji

Dalam bidang barista, para napi mampu memproduksi hingga 100 botol kopi per hari, yang dijual seharga Rp15.000 per botol. Sementara dari pelatihan bakery, napi dapat menghasilkan sekitar 250 potong roti per hari dengan harga Rp2.500 per potong.

“Kami juga menerima pesanan dari luar, jadi mereka benar-benar produktif,” tambahnya.

Di sektor pertanian, napi mengelola sawah seluas 1,7 hektare dan mampu menghasilkan 8 ton gabah basah setiap musim panen. Sedangkan di perkebunan, napi menanam sayur seperti sawi dan pakcoy hingga menghasilkan 50 kg per minggu. Produk ini dipasarkan ke supermarket melalui kerja sama langsung.

Untuk perikanan, para napi membudidayakan ikan nila, lele, koi, dan nila salim di lima kolam besar.

Baca juga: Bupati Karawang Larang Keras Jual Beli Kursi Saat Penerimaan Siswa Baru

Ada Tabungan untuk Masa Depan

Setiap hasil karya warga binaan dipasarkan dan dibagi hasil. Sebesar 10% disetor sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), sementara 40% menjadi tabungan napi.

“Uangnya tidak bisa diambil dulu. Nanti bisa mereka ambil setelah bebas, atau bisa juga dikirim ke keluarga,” jelas Christo.

Lapas Karawang juga memiliki tim seni seperti sanggar tari dan kelompok lengser, serta tim Pramuka sebagai wadah ekspresi dan pembinaan karakter.

“Kami ingin napi tidak hanya dibina secara mental dan disiplin, tapi juga punya skill nyata untuk survive di masyarakat,” tutup Christo. (*)