Beranda Ekonomi & Bisnis Tegas! Jokowi Tak Gentar Digugat ke WTO Imbas Larang Ekspor Bijih Nikel

Tegas! Jokowi Tak Gentar Digugat ke WTO Imbas Larang Ekspor Bijih Nikel

37
Ilustrasi (Foto: Pixabay)

JAKARTA- Presiden Joko Widodo Tegaskan tak gentar dalam menghadapi gugatan larang ekspor bijih nikel yang dilayangkan Uni Eropa ke WTO.

Hal itu dikatakan Presiden Jokowi dalam sambutannya di HUT PDI Perjuangan ke-50 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Selasa (10/1/2022)

“Keputusan Larang ekspor bijih nikel kita digugat oleh Uni Eropa dan sudah diputuskan kita kalah. Tapi saya sampaikan kepada Bu Menteri Luar Negeri, ‘Jangan mundur.’ Karena inilah yang akan menjadi lompatan besar peradaban negara kita, saya meyakini itu,” kata Jokowi seperti dilansir dari setkab.go.id.

Baca juga: Menkominfo Dorong Penyediaan STB Murah

Jokowi juga menekankan bahwa pemerintah akan terus melakukan hilirisasi industri yang diyakini akan menjadi lompatan besar peradaban negara.

“Kita harus berani seperti itu. Kita tidak boleh mundur, kita tidak boleh takut, karena kekayaan alam itu ada di Indonesia. Ini kedaulatan kita dan kita ingin dinikmati oleh rakyat kita, dinikmati oleh masyarakat kita,” ujar Mantan Wali Kota Solo itu.

Presiden menambahkan, pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN-Uni Eropa beberapa waktu lalu ia juga mendorong adanya kesetaraan dalam kemitraan antarnegara, sehingga tidak ada satu negara yang merasa lebih unggul daripada negara lain.

Baca juga: Hadiri FTIN, Jokowi: Gunakan Seni Budaya Sebagai Media Dakwah

“Saya menyampaikan, kemitraan itu harus setara dan tidak boleh ada pemaksaan, tidak boleh negara manapun mendikte dan tidak boleh negara-negara maju itu merasa bahwa standar mereka lebih bagus dari standar negara kita,” tegasnya.

Seperti yang dikatakan Presiden Soekarno pada tahun 1965, lanjut Presiden Jokowi, Indonesia harus mampu berdikari dan tidak menggantungkan diri kepada negara mana pun. Selain itu, Presiden Soekarno juga mendorong pemerintah untuk memperluas kerja sama yang sederajat dan saling menguntungkan dengan negara lain.

“Bung Karno tahun 1965 sudah menyampaikan itu, supaya kita tidak bisa didikte dan tidak menggantungkan diri kepada negara mana pun. Inilah yang ingin kita lakukan, berdikari, berdikari, berdikari,” pungkasnya.