Beranda Headline Tangis Indah untuk Tiara: Trauma Anak di Balik Pelayanan VVIP Rumah Sakit...

Tangis Indah untuk Tiara: Trauma Anak di Balik Pelayanan VVIP Rumah Sakit Karawang

35
Rumah sakit karawang
Indah Sari Dewi, Ibu Tiara anak korban gagal pemasangan infus hingga sebabkan pembuluh darah pecah di salah satu Rumah Sakit Swasta di Karawang (Foto: Istimewa)

KARAWANG – Tiara, putri dari Indah Sari Dewi, adalah buah hati yang dinanti selama delapan tahun penuh harap dan air mata. Empat kali program bayi tabung gagal, namun Indah tak pernah menyerah. Hingga akhirnya, pada percobaan kelima, lahirlah Tiara—cahaya yang dinanti-nantikan.

Namun, cahaya itu kini meredup. Bukan karena penyakit, tapi karena trauma yang tergores di usia yang baru menginjak empat tahun. Trauma itu diduga timbul akibat perlakuan saat dirawat di Rumah Sakit Permata Keluarga Karawang.

“Tiara itu anak yang aku perjuangkan dengan seluruh jiwa raga,” ucap Indah dengan mata berkaca-kaca. “Delapan tahun aku menunggu dia, empat kali gagal bayi tabung. Tapi saat aku pikir perjuangan sudah selesai, ternyata penderitaanku baru dimulai.”

Baca juga: RSM Segera Dioperasi, Bupati Aep Siapkan Dukungan Medis

Indah mengisahkan bahwa Tiara dirawat di kelas super VVIP di RS Permata Keluarga Karawang, namun justru mengalami perlakuan yang jauh dari standar kemanusiaan. Dalam rekaman yang dimilikinya, terlihat empat petugas medis memegangi tubuh mungil Tiara saat pemasangan infus dilakukan.

Ironisnya, prosedur medis itu justru menyebabkan kegagalan berulang, hingga pembuluh darah Tiara pecah. Bukan hanya luka fisik, tetapi trauma psikologis pun membekas mendalam.

“Sejak kejadian itu, Tiara jadi takut melihat keramaian. Dia menangis, menjerit saat melihat orang berkumpul. Padahal sebelumnya dia anak yang ceria. Sekarang, dia lebih memilih diam dan menutup diri,” tutur Indah, sembari menyeka air matanya.

Ucapan polos dari bibir kecil Tiara menjadi tamparan bagi seorang ibu.

“Dia bilang, ‘Mama, Tata mau di rumah aja, takut disuntik.’ Setiap kali saya ajak ke psikolog, kalimat itu terus dia ulangi. Bayangkan, anak empat tahun harus menjalani terapi karena trauma dari ruang rumah sakit. Hati saya hancur,” ungkap Indah dengan suara bergetar.

Indah memohon keadilan. Bukan hanya untuk dirinya dan anaknya, tapi untuk semua anak yang bisa saja mengalami kejadian serupa.

“Saya mohon kepada Kang Dedi, bantu kami. Jangan sampai ada Tiara-Tiara lain yang jadi korban. Kami bayar kelas super VVIP, tapi diperlakukan seperti ini. Kalau kami saja seperti ini, bagaimana dengan pasien yang menggunakan BPJS?”

Baca juga: Bejat! Predator Anak Karawang Dituntut 14 Tahun Penjara dan Denda Rp1 Miliar

Kasus ini kini tengah dalam penyelidikan. Sejumlah pihak dari Rumah Sakit Permata Keluarga Karawang telah memenuhi panggilan Polres Karawang pada Kamis (22/5) untuk dimintai keterangan.

Kisah ini bukan sekadar laporan medis. Ini adalah potret nyata sistem pelayanan kesehatan yang harus ditinjau kembali dengan hati nurani, bukan sekadar prosedur. Tangis Indah adalah suara yang seharusnya didengar—oleh pejabat, oleh pengelola rumah sakit, dan oleh siapa pun yang masih memiliki rasa kemanusiaan. (*)