Beranda Ekonomi & Bisnis Survei Ungkap Alasan Perusahaan Ragu Rekrut Gen Z: Skill atau Sikap?

Survei Ungkap Alasan Perusahaan Ragu Rekrut Gen Z: Skill atau Sikap?

17
Pengangguran gen z
Foto: Ilustrasi

beritapasundan.com – Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 menunjukkan bahwa Generasi Z atau Gen Z masih menjadi kelompok usia dengan tingkat pengangguran terbuka tertinggi di Indonesia. Ini bukan sekadar angka statistik. Di balik data tersebut, ada kegelisahan banyak anak muda yang merasa sudah cukup belajar, lulus kuliah, tapi tetap kesulitan masuk ke dunia kerja.

Faktanya, setiap tahun lebih dari 2 juta lulusan baru, baik dari SMK, SMA, maupun perguruan tinggi memasuki pasar kerja. Sayangnya, pertumbuhan lapangan kerja belum bisa mengimbangi. Banyak sektor yang stagnan, bahkan terdampak otomatisasi, dan belum cukup menciptakan peluang kerja baru.

Mengapa Gen Z Sulit Cari Kerja? Memahami Situasi dan Kondisi

Sebelum membahas apa alasan yang membuat Gen Z susah cari kerja, mari kita pahami dulu situasi dan kondisinya. Di era digital seperti sekarang, transformasi teknologi telah mengubah cara perusahaan merekrut dan menilai kandidat. Dulu, untuk melamar pekerjaan cukup dengan memiliki ijazah dan nilai bagus. Kini, perusahaan mencari keterampilan praktis dan kesiapan mental, khususnya dalam hal adaptasi teknologi, pemecahan masalah, dan kolaborasi lintas tim.

Baca juga: Perpusnas Terbitkan 25 Komik Babad Diponegoro, Siap Edarkan ke 10.000 TBM

Meskipun Gen Z dikenal sebagai generasi yang tumbuh bersama internet dan gadget, ternyata penguasaan teknologinya sering kali bersifat konsumtif, bukan produktif. Sebagai contoh, Gen Z terbiasa menggunakan media sosial untuk hiburan, tapi belum tentu mampu membuat strategi digital marketing atau memahami analisis data media sosial, yang mana keterampilan ini justru dibutuhkan perusahaan. Tak heran jika perusahaan cenderung mencari talenta yang sudah siap kerja, bukan sekadar paham teknologi secara umum.

Kekhawatiran Merekrut Gen Z dari Kacamata Perusahaan

Survei dari Intelligent, sebuah platform konsultasi karier global, mengungkapkan hal yang cukup mengkhawatirkan, yaitu 1 dari 6 manajer perekrutan menyatakan keberatan untuk mempekerjakan Gen Z. Survei ini melibatkan hampir 1.000 HR dan pimpinan tim dari berbagai sektor. Beberapa alasan utama yang mereka sebutkan antara lain:

  • Gen Z dianggap mudah tersinggung dan kurang tahan kritik.
  • Banyak yang menunjukkan kepercayaan diri tinggi, tetapi tidak sebanding dengan kompetensinya.
  • Beberapa menunjukkan kesulitan bekerja dalam tim, tidak terbiasa menerima masukan, dan enggan mengikuti struktur organisasi yang hierarkis.

Selain itu, laporan Deloitte Global 2024 juga menunjukkan, bahwa meskipun Gen Z sangat peduli pada isu sosial, lingkungan, dan keseimbangan hidup, hal itu belum dibarengi dengan kemampuan untuk menavigasi dunia kerja yang dinamis dan penuh tekanan.

Baca juga: Ingin Rumah Sendiri? Ini Syarat & Cara Membeli Rumah Subsidi 2025

Faktor-faktor Utama Penyebab Pengangguran Gen Z

Tidak memiliki keterampilan yang relevan, minim atau kurang kuatnya pengalaman kerja, hingga ekspektasi yang terlalu tinggi menjadi alasan mengapa pengangguran di era Gen Z relatif tinggi. Berikut adalah penjelasan lebih rinci penyebabnya:

1. Keterampilan yang Tidak Relevan

Banyak Gen Z yang memiliki keterampilan akademik yang tinggi, namun tidak sesuai dengan kebutuhan pasar kerja saat ini. Sebagai contoh, lulusan ilmu komunikasi yang tidak memahami SEO, atau sarjana ekonomi yang tidak menguasai Excel tingkat lanjut atau software analitik data. Data dari World Economic Forum menyebutkan, bahwa sebanyak 50% karyawan di seluruh dunia akan membutuhkan reskilling atau upskilling sebelum tahun 2027. Sayangnya, tidak semua Gen Z siap mengikuti tren ini secara proaktif.

2. Tingginya Tingkat Persaingan

Dengan ratusan ribu pelamar baru setiap tahun dan jumlah lowongan kerja yang terbatas, persaingan menjadi sangat ketat, terutama untuk posisi entry-level. Bahkan, banyak perusahaan lebih memilih merekrut kandidat dengan pengalaman magang atau sertifikasi tambahan, meskipun untuk pekerjaan pemula. Ini membuat Gen Z tanpa pengalaman kerja harus bersaing dengan mereka yang sudah lebih siap.

3. Minimnya Pengalaman Kerja Praktis

Memang banyak dari Gen Z yang sudah lulus, hanya saja belum pernah mengikuti program magang, kerja freelance, atau menjadi asisten dosen. Padahal, pengalaman-pengalaman ini bisa memberi nilai tambah besar di mata HRD. Beberapa penyebabnya antara lain:

  • Kurangnya informasi tentang pentingnya pengalaman kerja sejak dini.
  • Tidak semua kampus mewajibkan magang.
  • Terbatasnya akses terhadap program kerja sambil kuliah.

4. Ekspektasi yang Terlalu Tinggi

Banyak Gen Z ingin langsung mendapatkan pekerjaan yang ideal, seperti gaji tinggi, jam kerja fleksibel, work-life balance, bahkan fasilitas seperti remote working. Harapan ini tidak salah, tapi seringkali tidak realistis untuk tahap awal karier. Menurut survei LinkedIn, 45% karyawan Gen Z keluar dari pekerjaan pertamanya dalam setahun, sebagian besar karena pekerjaan tidak sesuai ekspektasi. Ini menciptakan siklus turnover yang tinggi, membuat HRD semakin selektif dalam menilai calon karyawan Gen Z. (*)