Beranda News Siswa SMAN 1 Cikampek Berikan Metode PSAJ dengan Cara Unik

Siswa SMAN 1 Cikampek Berikan Metode PSAJ dengan Cara Unik

25
Kegiatan di SMAN 1 Cikampek Karawang (Foto: Ist)

KARAWANG- Ada yang unik dalam Penilaian Sumatif Akhir Jenjang (PSAJ) di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Cikampek, Tak hanya teori seluruh siswa juga diberikan metode pembelajaran praktek.

Terlihat, antusias siswa dalam melaksanakan PSAJ mata pelajaran bahasa sunda, seni budaya dan olahraga itu sangat tinggi.

Kepala SMAN 1 Cikampek Drs. H. Agus Setiawan M.Pd mengatakan, Penilaian Sumatif Akhir Jenjang (PSAJ) bukan hanya dapat dilakukan dengan ujian tertulis tapi juga dapat dilakukan praktek, portofolio, dan produk.

Di SMAN 1 Cikampek untuk mata pelajaran bahasa, seni budaya dan olahraga berkolaborasi dengan melakukan PSAJ dengan berbentuk ujian praktek.

Baca juga: Caleg PKB Karawang Ini Blak-blakan Bongkar Kecurangan yang Dilakukan Oknum PPK Cikampek

“Untuk tema kegiatannya membudayakan seni budaya lokal yaitu bahasa sunda, agar para siswa mengenal bahasa sunda. Di sunda ini terdapat acara upacara mapag cai, ruwat bumi, tarian dan untuk olahraganya pencak silat,” terangnya.

Agus menjelaskan, kegiatan ini diikuti oleh siswa kelas 12 sebanyak 394 siswa-siswi dari program pemilihan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dan pemilihan ilmu bahasa.

Sedangkan untuk kelas 11 dan 10 mereka menonton sehingga ketika mereka di kelas 12 nanti sudah paham apa yang akan dikerjakan.

“Dalam kegiatan ini dinilai oleh tiga guru mata pelajaran. Penilaiannya terbuka yang merupakan bentuk akuntabilitas yang bisa dilihat semua, penilaiannya global tapi nilainya sendiri-sendiri jadi kalau penampilan kelasnya bagus, kreativitasnya bagus maka satu kelas ini akan mendapatkan nilai yang bagus, ” terangnya.

Baca juga: Menikmati Keindahan Alam di Pantai Santolo Garut: Destinasi Wisata yang Memikat Hati

Kata Agus, PSAJ ini baru pertama kali dilakukan dilakukan di SMAN 1 Cikampek, dengan adanya ujian praktek ini para siswa-siswi lebih senang dan bersemangat. Dalam ujian praktek ini. Selain itu, mereka mempersiapkan waktu selama dua minggu dengan mencari bahan sendiri.

“Harapannya, anak-anak dapat memahami budaya sunda, bisa melestarikan budaya sunda, menghargai dan melestarikannya. Kita kan mempunyai kearifan lokal, kalau yang menjaganya bukan orang sunda mau siapa. Jadi orang sunda lah yang harus memiliki sense of belonging terhadap budayanya,” harapnya.

Salah satu siswa, Fajar Dwi Anggita yang mengikuti kegiatan tersebuy juga mengaku senang dan bangga bisa mempraktek langsung apa yang menjadi budaya leluhurnya.

“Perasaanya senang dan bangga juga tentunya ya, bisa melestarikan budaya. Dan jujur dengan praktek ini kita jadi tahu apa itu budaya hajat bumi,” akunya. (Yan)