Beranda News Sinyal Dukungan Politik Hamida untuk Aep Syaepuloh Menguat di Pilkada 2024

Sinyal Dukungan Politik Hamida untuk Aep Syaepuloh Menguat di Pilkada 2024

32
Wakil Bupati Karawang, Aep Saepulloh bersama BPBD Karawang saat melakukan evakuasi korban banjir (Foto: Istimewa)

Artinya, H. Aep Syaepuloh tetap istiqomah menjalankan tradisi dan ajaran Ahlussunnnah wal Jama’ah An-Nahdliyah, itu yang membuat saya bangga kepada sosok Bupati, H. Aep Syaepuloh, tutur Kiai Juhyar.

Ketika ditanya terkait dukungan politik Hamida kepada H. Aep Syaepuloh pada Pilkada tahun 2024. Kiai Juhyar dengan tegas menyatakan bahwa hubungan Hamida dengan Bupati, H. Aep Syaepuloh selalu menjalin silaturahmi dan komunikasi secara intens, hal ini dibuktikan oleh beberapa event yang diselenggarakan Hamida Karawang, Bupati selalu mensuport kegiatan tersebut.

Termasuk Bupati memberikan fasilitas pemberangkatan Pengurus Hamida Karawang dalam acara Reuni Akbar Hamida di Kabupaten Tasikmalaya beberapa waktu yang lalu. Kiai Juhyar sambil merubah posisi duduknya menyatakan bahwa, dukungan politik Hamida Karawang kepada H. Aep Syaepuloh tinggal menunggu “ketok palu” (deklarasi), karena pengurus dan anggota Hamida sudah mencapai 90 persen memberikan dukungan kepada incumbent.

Pada saat ditanya terkait jabatan beliau sebagai Katib Syuriyah PCNU Karawang supaya tidak terjadi salah persepsi di kalangan pengurus dan warga Nahdliyin Karawang. KH Juhyar dengan cerdas dan bijak menjelaskan, bahwa Nahdlatul Ulama memegang teguh prinsip-prinsip yang tertuang dalam Khittah 1926 yang secara kelembagaan menjaga jarak yang sama dengan partai politik dan tidak ikut terlibat dalam politik praktis, termasuk Pilkada.

Walaupun pengurus atau warga Nahdlatul Ulama mempunyai hak politik untuk dipilih dan memilih yang dijamin oleh konstitusi negara. Ini berarti hak politik setiap warga nahdliyin dijalankan akan tetapi jangan membawa nama Perkumpulan Nahdlatul Ulama.

Lebih lanjut KH Juhyar memaparkan bahwa, sudut pandang terbaik dalam memahami Nahdlatul Ulama sebenarnya mengembalikan itu semua dalam tradisi-tradisi yang berkembang di pesantren.

Nahdlatul Ulama dilahirkan oleh para kiai di pesantren, dan pengikut Jam’iyyah ini sebagian besar adalah alumni pesantren dan kultur dalam Nahdlatul Ulama adalah manifestasi dari tradisi dan norma yang berkembang di pesantren, tegas Kiai Juhyar.

Demikianlah perbincangan antara penulis dengan KH. Juhyar, S.Pd.i, MA Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Falah Al-Huda yang juga Ketua Himpunan Alumni Miftahul Huda (Hamida) Kabupaten Karawang.

Penulis: Ja’a Maliki, merupakan Presidium Pergerakan Bintang Sembilan