
KARAWANG – Di tengah maraknya perkembangan digitalisasi, SDN Palumbonsari IV Karawang tetap berkomitmen melestarikan permainan tradisional bagi para siswanya. Kepala Sekolah SDN Palumbonsari IV, Nining, menyebutkan bahwa dua permainan tradisional yang masih aktif diterapkan di sekolah ini adalah sumpit dan dagongan.
Menurut Nining, kedua permainan ini bahkan sempat diikutsertakan dalam Olimpiade Sains Nasional (OSN) kategori olahraga tradisional. Prestasi gemilang diraih oleh SDN Palumbonsari IV dengan meraih juara pertama dalam lomba dagongan dan sumpit yang diadakan pada 1 Oktober 2024.
Baca juga: Inspektorat Award 2024: Pemkab Karawang Apresiasi Kinerja OPD
“Pada 1 Oktober lalu, kami berhasil meraih juara 1 di OSN kategori olahraga tradisional, khususnya untuk dagongan dan sumpit. Ini merupakan permainan dan olahraga zaman dulu yang kami kompetisikan,” ungkap Nining pada Kamis, 17 Oktober 2024.
Nining menjelaskan bahwa dagongan adalah permainan tradisional adu kekuatan antara dua tim yang masing-masing beranggotakan enam hingga delapan orang. Permainan ini menggunakan media berupa sebatang bambu. Tim dinyatakan menang jika berhasil menarik mundur tim lawan.
“Dagongan adalah permainan adu kekuatan dengan menggunakan bambu. Tim dinyatakan menang jika berhasil menarik tim lawan ke arah belakang,” jelas Nining.
Selain itu, permainan sumpit juga diterapkan di sekolah ini. Dalam permainan ini, peserta harus memanah ke titik pusat yang sudah ditentukan menggunakan sumpit tradisional.
“Permainan sumpit menggunakan sumpit tradisional, dengan tujuan memanah ke pusat sasaran. Permainannya dilakukan dengan cara meniup sumpit ke arah yang tepat,” terangnya lebih lanjut.
SDN Palumbonsari IV secara rutin mengadakan kegiatan permainan tradisional ini setiap hari Jumat dan Sabtu. Meskipun tidak dimasukkan ke dalam kegiatan ekstrakurikuler, Nining memastikan bahwa permainan ini tetap diajarkan secara berkala dan intensif, terutama menjelang perlombaan.
Baca juga: Pemilihan Duta Kampus UBP Karawang 2024, Ajang Puncak Dies Natalis ke-10
“Di sekolah kami ada dua guru olahraga yang rutin membimbing siswa dalam permainan ini. Meskipun tidak masuk ekstrakurikuler, kegiatan ini tetap dilaksanakan dan lebih intensif saat menjelang lomba,” tutupnya. (*)













