
KARAWANG – Staff Ahli Menteri Pekerjaan Umum IV (SAMPU IV), Triono Junoasmono, memaparkan secara rinci alur dan sistem penanganan banjir Karangligar yang telah berlangsung lebih dari dua dekade di Desa Karangligar, Kecamatan Telukjambe Barat, Kabupaten Karawang.
Penjelasan tersebut disampaikan dalam agenda kunjungan kerja Wakil Ketua DPR RI/Korinbang beserta anggota DPR RI ke Kantor Direksi Proyek Penanganan banjir Karangligar di Desa Parungsari, Kamis (20/11/2025).
Baca juga: Kolaborasi DPR RI dan Kementerian PUPR Percepat Solusi Banjir Karangligar
Dalam kesempatan tersebut Triono Junoasmono atau yang akrab disapa Bang Yongki menjelaskan terdapat tiga penyebab utama banjir Karangligar. Pertama, adanya aliran balik (back water) dari Sungai Cibeet yang masuk melalui saluran pembuang Cidawolong dan Kedunghurang, sehingga menggenangi area di Desa Karangligar, Desa Mulyajaya, dan Desa Mekarmulya dengan total luas sekitar 160 hektare.
Kedua, data BPBD Kabupaten Karawang menunjukkan penurunan muka tanah sedalam 2 meter pada periode 2007–2015, yang memperparah kerentanan banjir Karangligar.
Ketiga, hasil penyelidikan Balai Teknik Air Tanah pada 2024 menemukan adanya land subsidence sebesar 1,11 cm per tahun di wilayah tersebut.
“Dengan kondisi tersebut, BBWS Citarum diminta menghitung kebutuhan anggaran. Kami memilih alternatif pemasangan pintu air dan pompa di dua titik aliran balik Sungai Cibeet yang menjadi sumber genangan,” jelas Bang Yongki.
Selain pemasangan pintu air dan pompa, normalisasi serta penanggulan akan dilakukan di saluran pembuang pada kawasan tersebut. Pendekatan ini memungkinkan air mengalir secara gravitasi saat hujan lokal, dan menggunakan pompa ketika hujan kawasan serta air Sungai Cibeet naik.
Menurut Bang Yongki, sistem baru ini diharapkan mampu mereduksi banjir Karangligar yang sebelumnya merendam hingga 160 hektare pada 2025 menjadi hanya beberapa hektare. Target operasional pintu air dan pompa ditetapkan pada Juli–Agustus 2026.
Namun demikian, ia mengingatkan masih ada satu potensi akses masuknya air ketika debit Sungai Cibeet jauh melebihi kondisi 20 tahun terakhir. Untuk itu diperlukan pembangunan tanggul Sungai Cibeet sepanjang 11,7 km dengan estimasi anggaran Rp400 miliar.
“Total kebutuhan tanggul adalah 5,2 km untuk sisi Karawang dan 6,5 km untuk sisi Bekasi. Infrastruktur ini penting sebagai perlindungan tambahan terhadap banjir Karangligar,” tegasnya.
Baca juga: Saan Mustopa Tinjau Lokasi Pintu Air Karangligar, Target Bebas Banjir Tahun Depan
Bang Yongki memaparkan bahwa luas genangan mencapai 160 hektare, merendam sawah, permukiman, dan fasilitas umum.
- Desa Karangligar: 667 rumah terdampak
- Desa Mekarmulya: 924 rumah terdampak
- 25 fasilitas umum seperti masjid dan sekolah turut terendam
Penanganan komprehensif ini diharapkan menjadi solusi jangka panjang bagi masyarakat yang selama puluhan tahun menghadapi banjir Karangligar setiap musim hujan. (*)













