
beritapasundan.com – Ribuan wisatawan dari berbagai daerah di Provinsi Banten, Jawa Barat, dan DKI Jakarta memadati permukiman masyarakat adat Badui untuk mengisi libur panjang memperingati Kenaikan Isa Almasih 2025 yang bertepatan dengan akhir pekan.
“Kami mencatat kunjungan wisatawan dalam kegiatan saba budaya Badui pada Kamis (29/5) mencapai sekitar 1.200 orang. Namun untuk hari ini, Jumat (30/5), pendataan masih berlangsung,” ujar Sekretaris Desa Kanekes, Medi, saat dihubungi dari Rangkasbitung, Kabupaten Lebak.
Baca juga:Â Kabar Baik! Batas Usia dalam Loker Resmi Dihapus
Aktivitas saba budaya Badui semakin populer sebagai wisata alternatif berbasis budaya dan alam. Para pengunjung menikmati panorama kawasan adat Badui dengan berjalan kaki melintasi hutan, perbukitan, dan pegunungan yang masih alami.
Kebanyakan pengunjung memulai perjalanan dari Kampung Kadu Ketug, Ciboleger menuju jembatan Gajeboh sejauh kurang lebih 2,5 kilometer. Jalur ini cukup menantang dan melelahkan. Sementara sebagian lainnya melanjutkan perjalanan ke kawasan Badui Dalam dengan jarak sekitar 30 kilometer yang memerlukan waktu tempuh sekitar lima jam.
“Kami berharap wisatawan yang melakukan saba budaya Badui bisa mematuhi aturan adat, termasuk larangan membuang sampah sembarangan,” tambah Medi.
Ia menegaskan bahwa masyarakat adat Badui, yang berjumlah sekitar 16.500 kepala keluarga tersebar di 68 kampung, sangat menjaga kelestarian hutan. Hal ini merupakan bentuk ketaatan pada amanah leluhur untuk melindungi alam dari kerusakan akibat eksploitasi, seperti pertambangan dan penebangan liar.
Konsep hidup masyarakat Badui sangat erat dengan filosofi menjaga keseimbangan antara manusia dan alam, yang diyakini mampu mencegah bencana alam.
“Pengunjung saba budaya Badui juga kami imbau agar tidak memangkas pohon, membuang sampah di sembarang tempat, serta tidak berenang di aliran Sungai Ciujung,” tegas Medi.
Baca juga:Â Brand Lokal Torch Hadir di Karawang, Perkuat Jangkauan Pasar Jawa Barat
Salah satu pengunjung dari Tangerang, Sudarmono (45), mengungkapkan kekagumannya terhadap jembatan Gajeboh sepanjang 10 meter yang dibangun tanpa paku dan beton, melainkan hanya dengan tali dari pohon aren.
“Meskipun tampak sederhana, jembatan ini sangat kokoh meski dilintasi puluhan orang. Kami sekeluarga datang ke sini untuk berolahraga sambil bersilaturahmi dengan warga Badui,” katanya. (*)













