Beranda Headline Psikolog Soroti Keterlibatan Anak-Anak dan Remaja dalam Demonstrasi di Karawang

Psikolog Soroti Keterlibatan Anak-Anak dan Remaja dalam Demonstrasi di Karawang

19
Remaja demonstrasi karawang
Situasi demonstrasi di Karawang diwarnai kehadiran anak-anak dan remaja di bawah umur. (Foto: Istimewa) 

KARAWANG – Aksi demonstrasi besar di depan Gedung DPRD Karawang pada Selasa (2/9/2025) menyisakan perhatian khusus. Pasalnya, sejumlah anak-anak dan remaja di bawah umur terlihat ikut dalam barisan massa. Fenomena ini menimbulkan keprihatinan terkait perlindungan generasi muda di ruang demokrasi.

Psikolog Nuram menilai bahwa anak-anak dan remaja seharusnya memiliki ruang aman untuk tumbuh dan berkembang, bukan terseret dalam situasi chaos seperti demonstrasi.

Baca juga: Ricuh Unjuk Rasa di Karawang, 19 Orang Alami Luka-Luka

“Anak-anak belum bisa memilah benar-salah. Tugas orang dewasa lah yang memberi arahan, mana yang baik dilakukan dan mana yang tidak,” ujarnya.

Menurut Nuram, kemampuan kognitif anak dan remaja masih terbatas pada proses meniru. Jika terbiasa mendengar cacian atau menyaksikan kekerasan dalam aksi demonstrasi, mereka berpotensi menirukan hal tersebut.

“Dengan mudahnya mereka mengulang kata-kata kasar atau tindakan agresif tanpa bisa mengkaji baik-buruknya,” jelasnya.

Selain itu, keberadaan anak-anak dalam demonstrasi juga rawan membahayakan fisik. “Tenaga mereka tidak sebesar orang dewasa. Kalau lari pun tidak secepat demonstran dewasa. Risiko terjebak di situasi berbahaya sangat tinggi,” tambahnya.

Dalam psikologi, perkembangan anak terbagi dalam beberapa fase: bayi (1-3 tahun), anak awal (3-6 tahun), anak tengah (6-12 tahun), lalu remaja awal hingga remaja akhir yang tuntas di usia 21 tahun.

“Mahasiswa pun masih tergolong remaja akhir. Kemampuan kognitifnya belum selesai berkembang,” imbuh Nuram.

Karena itu, ia menekankan pentingnya koordinator lapangan demonstrasi untuk selektif. “Anak-anak di bawah umur seharusnya tidak dilibatkan. Mereka seringkali belum memahami isu yang disuarakan,” tegasnya.

Nuram juga menekankan peran orang tua dan sekolah dalam memberikan edukasi yang sederhana dan jelas. “Masalah yang dihadapi orang dewasa belum tentu bisa dicerna anak. Kalau ada hal tidak diinginkan, orang tua lah yang harus menanggung akibat,” ujarnya.

Baca juga: Semringahnya Ratusan Ojol Dapat Voucher Beras dari Polres Karawang

Ia menyoroti pula derasnya arus informasi di media sosial yang bisa menyeret remaja pada fenomena fear of missing out (FOMO).

“Perlu ada sinergi antara sekolah, orang tua, dan media untuk mengedukasi generasi muda. Media massa bisa menyuarakan isu ini lewat artikel atau infografis agar anak dan remaja belajar mengambil keputusan, bukan sekadar ikut-ikutan,” pungkasnya. (*)