
KARAWANG – Program bebas kusta di Kabupaten Karawang terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor, dengan fokus pada deteksi dini dan penghapusan stigma di masyarakat.
Upaya tersebut terlihat dalam kegiatan Workshop Kusta bagi dokter Puskesmas dan klinik swasta yang digelar di Hotel Mercure Karawang, Sabtu (11/4/2026), dalam rangka peringatan Hari Kusta Sedunia.
Kegiatan ini menghadirkan tenaga medis dari berbagai fasilitas layanan kesehatan untuk meningkatkan kapasitas dalam mendukung program bebas kusta, khususnya dalam deteksi dini, penanganan kasus, serta edukasi kepada masyarakat.
Baca juga: Inovasi Siswa Karawang, Mesin Pengupas Label Plastik Tingkatkan Nilai Limbah
Project Officer NLR Indonesia, Alfa Khoirun Nisa, menjelaskan bahwa pihaknya menjadi penyelenggara sekaligus pelaksana program bebas kusta berbasis kolaborasi internasional.
Program bertajuk Comprehensive Zero Leprosy Project (CoZLP) atau program bebas kusta ini merupakan kerja sama dengan The Leprosy Mission Australia serta didukung pendanaan pemerintah Australia. Program tersebut telah berjalan sejak Juli 2025, dan di Karawang baru memasuki tahap awal dengan durasi pelaksanaan selama lima tahun.
“Fokus kami dalam program bebas kusta ada tiga, yaitu mendorong kebijakan, penguatan pengobatan dan pencegahan, serta mengurangi stigma pada Orang yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK),” ujarnya.
Alfa menambahkan, Karawang dipilih karena masih memiliki beban kasus kusta yang cukup tinggi, sehingga membutuhkan intervensi lebih intensif melalui program bebas kusta. Selain Karawang, intervensi juga dilakukan di Kabupaten Kuningan yang telah memasuki tahap kedua.
Senior Program Officer The Leprosy Mission Australia, Andrew Newmarch, menilai Indonesia masih menghadapi tantangan serius dalam penanggulangan kusta.
“Indonesia merupakan negara dengan kasus kusta tertinggi ketiga di dunia setelah India dan Brasil, dengan lebih dari 10 ribu kasus baru setiap tahun,” ungkapnya.
Ia menegaskan pentingnya deteksi dini dalam mendukung keberhasilan program bebas kusta, sehingga kasus dapat ditemukan sebelum menimbulkan disabilitas, sekaligus mengurangi stigma di masyarakat.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Karawang, Ns. Kurniasih, menyambut positif penguatan program bebas kusta tersebut. Ia menegaskan bahwa pelatihan ini penting untuk meningkatkan kemampuan tenaga medis dalam menangani kusta secara komprehensif.
“Melalui pelatihan ini, kami berharap dokter mampu menemukan kasus kusta sejak dini dan menangani dengan tepat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Dinas Kesehatan fokus pada penguatan layanan di tingkat Puskesmas sebagai bagian dari program bebas kusta, termasuk edukasi masyarakat, pencegahan, serta pengobatan hingga pasien sembuh.
“Kami juga menargetkan eliminasi kusta pada 2030 melalui berbagai intervensi, salah satunya pelatihan seperti ini,” tambahnya.
Kepala Bidang P2P Dinkes Karawang, dr. Yayuk Sri Rahayu, menjelaskan bahwa eliminasi kusta memiliki beberapa tahapan, mulai dari pemutusan penularan hingga status non-endemis.
“Indikator utama adalah tidak adanya kasus pada anak selama lima tahun berturut-turut. Namun saat ini, Karawang masih menghadapi tantangan karena kasus pada anak masih ditemukan,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa dominasi kasus tipe multibacillary menjadi indikator masih adanya penularan aktif di masyarakat.
Sebagai penutup, Technical Advisor NLR Indonesia, dr. Christina Widaningrum, mengimbau tenaga kesehatan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap gejala awal kusta.
Baca juga: Musrenbang RKPD Karawang 2026 Sukses Digelar, Inovasi Daerah Jadi Sorotan
“Dokter harus waspada terhadap tanda awal seperti bercak putih atau merah di kulit. Jika ditemukan, segera lakukan pemeriksaan agar pasien mendapatkan pengobatan gratis,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya peran masyarakat dalam menyukseskan program bebas kusta melalui penerapan pola hidup bersih dan sehat (PHBS), serta menghilangkan stigma terhadap penderita.
“Harapan kami, masyarakat semakin paham bahwa kusta bisa disembuhkan dan tidak lagi mendiskriminasi pasien,” pungkasnya. (*)













