Beranda News PHP2D BEM Unsika Gandeng Warga Jatilaksana Membuat Kerajinan Tangan

PHP2D BEM Unsika Gandeng Warga Jatilaksana Membuat Kerajinan Tangan

BEPAS – Di bawah BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Unsika (Universitas Singaperbangsa Karawang), 15 mahasiswa menggarap PHP2D (Program Holistik Pembinaan dan Pemberdayaan Desa) dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Desa Jatilaksana, Kecamatan Kecamatan Pangkalan.

“Program PHP2D dijalankan sesuai analisis kebutuhan. Sebelum itu kami melakukan analisis kebutuhan dampak dari Covid-19. Kami juga melihat potensi daerah. Hasilnya, bambu hitam kita rancang jadi sebuah kerajinan bernilai ekonomis,” kata dosen Unsika yang mendampingi PHP2D, Neng Ulya, S.Pd., M.Pd.

Selain bambu hitam, penduduk juga memanfaatkan kain flanel untuk dijadikan kerajinan buket dan tempat pensil. Juga kain perca limbah rumah tangga untuk dijadikan bros.

Untuk distribusi kerajinan tangan, mahasiswa menggandeng Pohon Kreativitas sebagai mitra. Pohon Kreativitas juga jadi fasilitator untuk memanfaatkan kain perca, limbah botol, dan limbah plastik.

Di tangan masyarakat Desa Jatilaksana, Kecamatan Pangkalan, bambu hitam jadi bernilai ekonomis. Bersama mahasiswa Unsika, penduduk Jatilaksana bertahan di tengah pandemi.

Ide untuk membuat kerajinan tangan dari bambu hitam sebenarnya bukan yang pertama. Jauh sebelumnya sudah ada pengrajin bambu hitam di Jatilaksana. Namun, seiring waktu berjalan, mereka stop produksi. Kini, mulai Juli 2020, kerajinan bambu hitam bangkit lagi.

Lewat PHP2D, masyarakat diajak mengatasi dampak pandemi dengan membuat Rumbela (Rumah Belajar).

Ketua PHP2D Unsika, Dewinta Novilisia menuturkan, selama tiga bulan program berjalan, Rumbela Desa Jatilaksana sudah menghasilkan tiga macam kerajinan tangan dari bambu hitam, yaitu asbak, lampion, dan pot.

“Sasaran PHP2D ada tiga. Pemuda desa, ibu-ibu PKK, dan masyarakat desa secara umum. Alhamdulillah program berjalan dengan lancar,” tuturnya.

Ke depan, mahasiswa sedang merancang buku saku yang nantinya akan memandu anggota Rumbela untuk memasarkan produk bambu hitam.

“Karena pelatihan kreativitas sudah selesai, sekarang ini kami sedang menyusun pelatihan kewirausahaan. Bedanya, pelatihan kreativitas berisi bagaimana caranya memanfaatkan bambu hitam jadi kerajinan tangan, kalau kewirausahaan berisi bagaimana cara memasarkan kerajinan tangan. Kami juga akan memfasilitasi masyarakat untuk pelatihan cara mengemas produk yang baik dan benar,” tutur Dewinta.

Soal strategi pemasaran, meski belum diputuskan berapa harga satuan kerajinan tangan, produk kerajinan tangan bakal dipasarkan secara daring dan luring. “Kalau daring, dipasarkan via online shop dan media sosial. Kalau luring, dititipkan ke toko-toko suvenir dan oleh-oleh di sekitar Loji-Pangkalan,” sambungnya.

Dewinta dan rekan-rekannya optimistis, produk bambu hitam bakal laris manis mengingat Desa Jatilaksana adalah jalur emas pariwisata gunung andalan Karawang.

Sementara itu di tempat yang sama, dosen Unsika yang mendampingi program mahasiswa, Neng Ulya, S.Pd., M.Pd menambahkan, PHP2D tidak hanya memberikan fasilitas pelatihan ke masyarakat. Tapi juga memberikan hibah alat dan mesin produksi.

“PHP2D sebentar lagi berakhir. Saat ini kami sedang mendorong masyarakat untuk mengisi struktur organisasi Rumbela sehingga ketika kami kembali ke kampus, masyarakat masih meneruskan produksi kerajinan bambu hitam,” kata Ulya.

Sementara itu di tempat terpisah, Ketua Rumbela Jatilaksana yang juga menjabat sebagai aparatur desa, Acim Bahrudin, S.Ip menuturkan, potensi Rumbela dalam meningkatkan ekonomi masyarakat belum bisa diprediksi karena masih dalam proses pemasaran. Namun, adanya Rumbela di tengah masyarakat bisa menjadi inspirasi.

Tidak hanya kerajinan tangan dari bambu hitam. Acim menambahkan, Rumbela juga memproduksi bros dari limbah rumah tangga.

Harapan Acim, melalui Rumbela, masyarakat bisa meningkatkan dan mengembangkan potensi diri dalam kerajinan tangan. “Juga bisa menjadi wadah dalam pengembangan kreativitas,” tutupnya. (red)